Nama PT Infinity Muncul di Sidang, KPK Diminta Perluas Pendalaman Perkara

Sidang
Sidang kasus suap pejabat Bea Cukai.(istimewa)
0 Komentar

“Fakta ini sangat penting. Selama ini publik hanya mendengar aliran uang dari Blue Ray. Kini muncul nama PT Infinity sebagai pemberi rutin. Hal ini bisa menjawab pertanyaan publik tentang kepemilikan uang rupiah, dolar Amerika, dan logam mulia yang disita KPK dari safe house Orlando, Sisprian, dan Rizal, apakah itu sebagian berasal dari Infinity?” ujarnya.

Keterangan Antonius juga mengungkap hubungan yang cukup dekat dengan Orlando. Ia menjelaskan bahwa dirinya diajak bekerja oleh Orlando sejak yang bersangkutan bertugas di Bali, kemudian Surabaya, hingga Jakarta.

Antonius menjadi pegawai PT Infinity pada periode 2021 hingga 2023 selama kurang lebih satu setengah tahun atas rekomendasi Orlando. Hubungan tersebut menjadi salah satu bagian yang mendapat sorotan dalam persidangan.

Baca Juga:Sidang Bea Cukai Ungkap Dugaan Aliran Dana dari Sejumlah ImportirKejelasan Status Data Dinilai Penting dalam Tata Kelola Ekspor Nasional

Pada Maret 2025, Antonius juga mengaku diperintahkan menyewa apartemen menggunakan namanya sendiri selama satu tahun. Selain itu, Orlando disebut pernah menyampaikan bahwa dirinya akan segera bertugas di kantor pusat DJBC Jakarta.

Menurut Gautama, pola penggunaan pihak ketiga untuk menguasai atau menyewa aset merupakan praktik yang kerap ditemukan dalam jaringan informal. Cara tersebut dapat menyulitkan penelusuran kepemilikan maupun aliran dana.

“Pola ini sangat khas dalam operasi jaringan intelijen informal: menggunakan orang kepercayaan untuk menyewa aset atas nama pribadi, sehingga aliran uang dan kepemilikan aset sulit dilacak. Ini adalah praktik asset shielding – melindungi aset dengan menempatkannya atas nama pihak ketiga,” katanya.

Selain itu, persidangan juga mengungkap perbedaan tingkat jalur merah antara PT Infinity dan Blue Ray. Fakta tersebut muncul ketika tim penasihat hukum Blue Ray membandingkan data penjaluran dengan tabel intelijen yang dimiliki Fillar Marindra.

Data tersebut menunjukkan tingkat jalur merah PT Infinity rata-rata berada di bawah 30 persen. Angka itu jauh berbeda dibandingkan Blue Ray yang disebut mencapai kisaran 80 hingga 90 persen.

Antonius menjelaskan bahwa selama bekerja sebagai staf lapangan clearance dirinya tidak pernah mengalami hambatan berarti dalam proses kepabeanan. Aktivitas perusahaan berjalan lancar tanpa kendala yang signifikan.

Ia juga mengaku tidak mengetahui secara rinci persentase jalur merah maupun hijau karena bukan bagian dari tim analisis risiko. Namun pengalaman tersebut menjadi salah satu fakta yang diperdebatkan dalam persidangan.

0 Komentar