Sidang Bea Cukai Ungkap Dugaan Aliran Dana dari Sejumlah Importir

DJBC
PERSIDANGAN: Sidang dugaan suap dan gratifikasi importasi barang di lingkungan DJBC di di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. (Foto: Istimewa)
0 Komentar

JAKARTA – Fakta persidangan perkara dugaan suap dan gratifikasi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) mulai memperlihatkan gambaran yang lebih luas dari yang selama ini berkembang di ruang publik. Kesaksian yang muncul di pengadilan mengungkap dugaan aliran uang dari sejumlah importir dan forwarder lain, sehingga perkara tidak lagi semata-mata berpusat pada Blue Ray Cargo.

Spesialis Analisis Kontra Intelijen, R. Gautama Wiranegara, menilai perkembangan sidang pada 3 Juni 2026 telah mengubah cara membaca perkara yang sedang berjalan. Menurut dia, fakta-fakta yang terungkap menunjukkan adanya kemungkinan jaringan relasi yang lebih besar antara pelaku usaha dan operator teknis di lingkungan Bea Cukai.

Dalam catatan persidangan, saksi Fillar Marindra yang bertugas sebagai analis intelijen penyusun mesin filter atau targeting cargo menjelaskan bahwa Orlando Hamonangan tidak hanya menerima uang dari Blue Ray. Keterangan itu menyebut adanya dana dari importir lain seperti Fasdelli, Ali Medan, dan pihak lain yang dititipkan melalui Fillar maupun Aditya untuk disimpan di mobil Brio yang digunakan sebagai tempat penyimpanan uang operasional.

Baca Juga:Kejelasan Status Data Dinilai Penting dalam Tata Kelola Ekspor NasionalKPK Diminta Membuka Seluruh Fakta Kasus Bea Cukai di Persidangan

Gautama mengatakan fakta tersebut menjadi salah satu perkembangan paling penting dalam perkara yang sedang disidangkan. Sebab selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada hubungan antara Blue Ray dan sejumlah pejabat Bea Cukai.

“Kalau keterangan ini benar dan nanti terkonfirmasi dalam risalah resmi persidangan, maka Blue Ray tidak lagi bisa dibaca sebagai satu-satunya titik dalam perkara. Ada indikasi hubungan yang melibatkan lebih banyak pihak,” kata Gautama dalam keterangannya, Jumat, 5 Juni 2026.

Menurut dia, kemunculan nama-nama lain dalam kesaksian maupun Berita Acara Pemeriksaan (BAP) membuat peta perkara menjadi jauh lebih luas. Situasi tersebut juga menimbulkan pertanyaan mengenai sejauh mana pola yang sama diduga berlangsung pada importir lain.

“Yang menarik bukan hanya siapa yang memberi uang, tetapi apakah mekanisme yang sama juga dinikmati oleh pihak-pihak lain yang muncul dalam persidangan,” ujarnya.

Selain keterangan mengenai aliran dana, persidangan juga menampilkan fakta terkait pengaturan rule set targeting. Fillar mengaku pernah menerima perintah dari Orlando untuk mengatur rule set targeting terhadap Blue Ray agar berada di atas 70 persen.

0 Komentar