JABAR EKSPRES – Kesalahan persepsi masyarakat yang masih menganggap kental manis sebagai susu dinilai menjadi salah satu tantangan dalam upaya memperbaiki kualitas gizi anak.
Di tengah tingginya kasus stunting dan meningkatnya tren obesitas, anggapan keliru tersebut dikhawatirkan mendorong pola konsumsi yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi anak.
Melalui edukasi yang digelar di Kabupaten Bandung Barat, Pengurus Pusat (PP) Muslimat NU bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dan Dinas Kesehatan KBB mengajak masyarakat meluruskan pemahaman mengenai penggunaan kental manis agar tidak lagi dijadikan pengganti susu.
Baca Juga:Impor Susu Masih 80 Persen, Mentan Buka Peluang Besar bagi Investor Peternakan Sapi PerahBapanas Ajak Pemda untuk Jaga Harga Pangan Tetap Stabil
Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU, Erna Yulia Sofihara, mengatakan pihaknya berkolaborasi dengan YAICI sejak 2016 untuk mengedukasi masyarakat mengenai penggunaan kental manis.
“Kalau anak terlalu banyak mengonsumsi gula, otomatis dia cepat kenyang sehingga tidak mau mengonsumsi makanan bergizi lainnya. Kondisi itu dapat menjadi salah satu penyebab gizi buruk maupun stunting,” katanya di Ngamprah, Selasa (21/7/2026).
Ia menilai edukasi tersebut mendesak dilakukan karena angka stunting di Kabupaten Bandung Barat masih tergolong tinggi dan berada di atas rata-rata nasional. Padahal, pemerintah sebelumnya menargetkan prevalensi stunting dapat ditekan hingga 14 persen.
Erna menegaskan, salah satu akar persoalan adalah kesalahpahaman yang berlangsung selama bertahun-tahun ketika masyarakat menganggap kental manis sebagai susu.
“Karena itu, kami mendorong perubahan penamaan produk dari susu kental manis” menjadi kental manis agar masyarakat tidak lagi keliru memahami fungsi produk tersebut,” tambahnya.
Selain itu, pihaknya juga mendorong agar iklan kental manis tidak lagi menampilkan balita yang seolah-olah mengonsumsi produk tersebut sebagai minuman pengganti susu.
Menurutnya, jika kesalahan persepsi itu terus dibiarkan, dampaknya dapat dirasakan oleh kualitas generasi mendatang.
Baca Juga:Dampak Kemarau di Tasikmalaya Meluas, 26 Kecamatan dan Lebih dari 2.100 Hektare Sawah Alami KekeringanLongsor Terjang Kampung Naga Tasikmalaya, 2,5 Hektare Sawah Tertimbun
“Dengan jaringan organisasi hingga tingkat ranting di seluruh Indonesia, Muslimat NU berharap kader-kadernya dapat menjadi ujung tombak edukasi gizi di lingkungan keluarga dan masyarakat,” imbuhnya.
Sekretaris Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), Satria Yudistira, mengatakan tingginya kesalahan persepsi masyarakat menjadi alasan edukasi harus dilakukan secara berkelanjutan.
