“Kita menggandeng sekitar 125 mitra industri ya. Kita memiliki berbagai macam MoU dengan beberapa industri itu dan meningkatkan kerjasamanya bentuknya yaitu guru magang, kemudian PKL,” ujar Latifah.
Selain itu, hubungan baik dengan para mitra industri juga terus dijaga guna mendukung kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja.
“Kemudian rekrutmen, juga kita membina hubungan yang baik dengan mitra industri,” tutur Latifah.
Baca Juga:Pria di Tajurhalang Bogor Ditemukan Tewas Gantung Diri, Diduga Terlilit UtangSapi Simental 1 Ton Bantuan Presiden Prabowo Siap Dikurbankan di Bogor
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, dunia pendidikan ikut menghadapi tantangan baru. Latifah, menilai pola belajar siswa saat ini sudah jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Menurut dia, para guru kini dituntut untuk mampu beradaptasi dengan era digital yang memengaruhi hampir seluruh aktivitas pembelajaran di sekolah.
“Zaman berubah ya. Kita tidak bisa mendidik siswa atau murid itu sama dengan zaman kita dulu,” ujar Latifah.
Ia mengatakan, perkembangan teknologi membuat guru, baik normatif-adaptif maupun produktif, harus lebih menguasai sistem pembelajaran berbasis digital.
“Sekarang ada zaman yang dipengaruhi oleh digitalisasi, teknologi yang semakin canggih, maka guru dituntut untuk lebih menguasai digital tadi,” katanya.
Perubahan itu terlihat dari kebiasaan siswa saat belajar di kelas. Jika dulu siswa terbiasa mencatat materi secara manual, kini banyak yang memilih memotret materi menggunakan ponsel.
“Sekarang hampir semua pembelajaran menggunakan HP,” ucapnya.
Latifah mengaku kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Sebab, kebiasaan menulis tangan perlahan mulai berkurang di kalangan siswa.
Baca Juga:Abu Semen PT Mortar Nasional Indonesia Diduga Kembali Bocor, Warga Kemang Bogor ResahPemkab Tasikmalaya Tancap Gas Benahi Jalan Rusak, 32 Ruas Masuk Prioritas
“Saya ngajar, ‘Bu, foto ya,’ foto,” katanya menirukan ucapan muridnya.
Menurutnya, kebiasaan itu membuat kemampuan menulis siswa menjadi tidak serapi dulu. Selain itu, belum tentu materi yang sudah difoto kembali dipelajari oleh siswa.
“Nah, jadi apa kurangnya? Mereka tuh menulis kurang rapi. Kedua, ketika udah difoto, entah dibaca entah tidak,” terangnya.
Meski begitu, pihak sekolah tetap berupaya menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan metode belajar konvensional. Sebab menurut Latifah, menulis dan mendengarkan tetap penting untuk melatih motorik dan fokus siswa saat belajar.
