Orang Tua Rela Jual Harta Benda Demi Sembuhkan Peri Kecil Penderita Atresia Bilier

ilustrasi bayi Penderita Atresia Bilier. Foto Pexeels
ilustrasi bayi Penderita Atresia Bilier. Foto Pexeels
0 Komentar

Hermawan menanggung tanggung jawab sebagai kepala keluarga, ia menyewa motor orang lain agar dapat terus berjualan untuk membiayai kehidupan keluarganya dan kesembuhan HH.

“Sekarang tuh jualan tuh dari, saya hamil H tuh jualan dia. Tapi sekarang motornya udah nggak ada. Jualan permen,” kata dia.

“Kalau biaya ya Bapak pulang. Saya di rumah sakit sendiri. Ya dia sebenarnya kalau cari sewa motor orang. Iya kan kalau nggak gitu nggak bisa jualan. Jadi sewa motor orang,” lanjutnya.

Tinggal di Rumah Singgah

Baca Juga:Masjid Raya Al Jabbar, Ikon Megah Perpaduan Ibadah, Edukasi, dan Wisata Religi di BandungMasjid Raya Al Jabbar, Ikon Megah Perpaduan Ibadah, Edukasi, dan Wisata Religi di Bandung

Siti Hanifah sempat mengontrak rumah di dekat RSCM sekitar 14 hari lamanya sejak Desember 2025, karena tidak dapat membayar sepenuhnya. Satu bulannya, keluarga tersebut perlu membayar sekitar Rp 1,7 Juta.

Keputusan untuk mengontrak di dekat RSCM untuk memperdekat jarak pengobatan HH sekitar satu minggu dengan tiga kali pengobatan.

Ia menambahkan, kondisi peri kecilnya tidak dapat terkena udara kotor seperti di dalam mobil bus. Kata dokter, lanjutnya, terdapat berbagai macam virus dan Hana Hanifah dalam keadaan sakit.

“Itu kan banyak kalau kata dokter banyak virus kan ya atau di kereta. Jadi kita nggak bisa balik-balik naik kendaraan umum. Kita berat di ongkos. Tadinya begitu, ternyata kita ngontrak di Jakarta juga mahal,” tambah dia.

Setelah keluar dari kontrakan, keluarga kecil itu menempati rumah singgah dengan perjuangan mencari tempat tersebut sekitar dua minggu lamanya.

Sekitar 11 hari di rumah singgah, HH kembali drop dan kembali masuk ke IGD. Saat ini, peri kecil itu sedang dirawat sekitar 20 hari lamanya.

“Nyampe sekarang di rumah Singga itu cuma 11 hari. Dia langsung masuk IGD. Dia udah 20 hari dirawat. Baru 11 hari di rumah Singgah terus langsung masuk IGD,” ucapnya.

Waktu Berobat Tergantung Jadwal Poli

Baca Juga:BULOG Kancab Bandung dan Satgas Saber Pangan Polda Jabar Pantau Harga Bapokting Jelang Ramadan dan IdulfitriMendekati Akhir Operasi SAR, Baru 52 Korban Longsor Cisarua TeridentifikasI

Siti Hanifah mengungkapkan, putri semata wayangnya berada di bawah bayang-bayang jadwal poli. Waktu pengobatannya pun berbeda.

Ia menjelaskan, dalam satu minggu dapat mengunjungi dua hingga empat poli dengan menyesuaikan jadwal dari rumah sakit.

“Dalam seminggu itu kadang tiga kali, kadang dua kali, kadang empat kali. Tergantung polinya kan. Kalau RSCM itu nggak bisa sehari beberapa poli,” jelasnya. Jadinya tuh kita ngambil rujukan-rujukan begitu jadi nggak bisa beberapa poli. Seminggu paling tiga atau dua kali,” tambah dia.

0 Komentar