Siti Hanifah melanjutkan, peri kecilnya mendapat rujukan pemgobatan kembali ke salah satu rumah sakit swasta untuk melakukan USG Abdomen dengan biaya yang disebut mencapai Rp 8 Juta. Mengetahui pengeluaran besar, mereka tidak bergeming. Akhirnya, memutuskan untuk berhenti melakukan pengobatan. “Setelah di situ, kita kan tanya ya, berapa harganya, 8 juta harganya. Kan kita diem ya, kita pikir bisa pakai BPJS. Jadi kita stop lagi pengobatan anak,” ujarnya.
Saat November 2025, kondisi HH drop dan mengalami sesak nafas yang disebut parah oleh Siti Hanifah. Ia mengaku, sempat ditolak oleh Instalasi Gawat Darurat. “Setelah akhir November, dia drop lagi kondisinya. Dan menurun sampai napasnya tuh sesak banget. Masuk ke IGD, di IGD juga kita sempat ditolak,” jelas dia.
Siti Hanifah menyadari, buah hatinya perlu dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk menerima penanganan lebih lanjut. “Karena emang sudah ada riwayat di situ, anak tuh emang harus sudah dibawa ke rumah sakit Cipto. Karena di RSUD Ciawi tuh nggak ada gastro. Jadi kita sempat ditolak juga,” ucap dia.
Baca Juga:Masjid Raya Al Jabbar, Ikon Megah Perpaduan Ibadah, Edukasi, dan Wisata Religi di BandungMasjid Raya Al Jabbar, Ikon Megah Perpaduan Ibadah, Edukasi, dan Wisata Religi di Bandung
Suami atau ayah dari HH, Hermawan meminta pertolongan kepada dokter yang bertugas saat itu untuk membantu buah hatinya agar dapat menghilangkan sesak nafas.
Setelah dua hari penanganan, kata Siti Hanifah, perut peri kecil itu semakin membesar. “Jadi terus suami bilang ke dokternya, minta tolong buat hilangin dulu sesaknya. Obatin dulu, biar hilang. Baru nanti kita akan datang ke RSCM. Di situ ditangani sama dokter itu. Tapi pas setelah 2 hari, perutnya malah makin besar,” tutur dia.
Pengorbanan orang tua dari HH tidak hanya mengorbankan waktu maupun tenaga. Bahkan, semua tabungan hingga motor untuk menunjang kerja Hermawan dijual.
“Kalau dikorbanin ya tabungan udah habis semua. Suami, motornya udah nggak ada. Udah kita udah nggak punya apa-apa pak. Udah semuanya dikorbanin yang kita punya udah nggak ada. Cuman HP aja mungkin ini,” tambahnya.
Hermawan, kata Siti Hanifah, sempat bekerja namun perusahaannya bangkrut. Hermawan kini menjadi penjualan permen sejak HH masih di dalam kandungan.
