JABAR EKSPRES – Nama Abuya Cimanggung, Ustadz Ade Nurjaman yang tercatut pada poster dengan narasi bermuatan penghinaan terhadap Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir dan Wakil Bupati Sumedang, M Fajar Aldila kian ramai diperbincangkan.
Ketika dikonfirmasi, Ade mengaku tak membuat poster dengan narasi yang bermuatan penghinaan terhadap Bupati dan Wabup Sumedang.
Akan tetapi, tulisan diduga berawal dari grup WhatsApp dan pesan itu dibuat oleh Ade. Dia mengaku, jika kalimat-kalimat tersebut memang disampaikan karena merasa kecewa tidak bertemu dengan Bupati Sumedang ketika menggelar audensi yang telah dijadwalkan.
Baca Juga:Soal Narasi Diduga Menghina Bupati dan Wabup Sumedang, Abuya Cimanggung Bersumpah Tak Buat PosterSejumlah Massa Gelar Aksi di DPRD Sumedang, Tuntut Pemakzulan Fajar Aldila
“Kalau Buya bikin itu pokoknya sabubukna, Wabup Sumedang sabubukna,” katanya saat dihubungi Jabar Ekspres melalui seluler pada Rabu (30/9/2026).
Dijelaskan Ade, tulisan tersebut tidak dimaksudkan sebagai hinaan, dia menilai jika konteks kalimat itu berkaitan dengan harapannya agar koalisi di Sumedang dapat memenangkan kontestasi.
“Harus menang koalisi Sumedang. Ada yang bikin poster, itu goblog itu,” kata Ade.Ia menegaskan, poster yang kemudian beredar bukan dibuat olehnya.
Menurut Ade, tulisan yang dibuatnya di grup WhatsApp kemudian dipelintir dan digunakan dalam poster dengan narasi yang berbeda.
“Poster bukan saya, cuma narasinya yang kedua Buya yang nulis,” jelasnya.
Ade menerangkan, kekecewaan tersebutws bermula ketika dirinya dan rombongan sebelumnya telah mendapat jadwal audiensi dengan Bupati Sumedang. Namun, setelah datang sesuai jadwal, mereka mengaku tidak mendapat kesempatan bertemu.
“Karena gini, kemarin audiensi janjian dengan bupati, kami dibiarkan menunggu tanpa ada pertemuan,” terangnya.
Baca Juga:Pria yang Mengaku Abuya Cimanggung Dikaitkan dengan Narasi Diduga Hina Bupati-Wabup Sumedang, MUI Buka SuaraKDM Buka-bukaan soal Polemik Wabup Sumedang: Pastikan Pelecehan Seksual dan Penganiayaan Tak Pernah Ada
Ade mengungkapkan, jadwal audiensi tersebut bukan dibuat oleh dirinya, melainkan ditentukan oleh pihak yang mengundang.
Oleh sebab itu, dalam hal ini dirinya merasa kecewa ketika sudah datang sesuai waktu yang ditentukan tetapi tidak mendapat pertemuan.
“Yang ngasih jadwal mereka, hari mereka yang tentukan, yang mengundang mereka, tapi mereka tidak menemui kami yang sudah datang. Kami kecewa,” ungkapnya.
Ade kembali menegaskan bahwa apabila tulisan yang dibuatnya di grup WhatsApp kemudian disebarkan, ia menilai konteksnya tidak dapat dilepaskan dari kekecewaan tersebut. (Bas)
