Kisah Prajurit TNI Penyandang Disabilitas

Kisah Prajurit TNI Penyandang Disabilitas
M ALI / JAWA POS
TAK MENYERAH: Kopka Suwardi belajar menjahit di Pusat Rehabilitasi Kementerian Pertahanan, Jakarta, beberepa waktu lalu.
0 Komentar

Pratu Abdul Rois Nurdin

Kaki kiri Pratu Abdul Rois Nurdin mengecil. Prajurit yang bertugas di Yonif 756/Wimane Sili, Wamena, Papua, itu tertembak saat mengejar separatis bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) pada 1 September 2014.

Prajurit 28 tahun tersebut tertembak saat mengevakuasi pesawat tanpa awak atau drone yang jatuh dan tersangkut di pohon. ”Ketika sudah turun, tiba-tiba kami diberondong tembakan dari atas gunung. Lalu, ada peluru yang kena pinggul kanan saya sampai pinggul kiri,” katanya.

Rois pun ambruk. Tim medis berusaha menolong. Tapi, mereka tertahan berondongan peluru dari kelompok OPM. ”Saya sekarat. Mata berkunang-kunang. Dokter datang sambil merangkak,” ujarnya.

Baca Juga:Partai Idaman Tak Lolos VerifikasiJembatan Patah, Pangandaran-Banjar Putus

Tim medis mengambil tindakan untuk mengoperasi Rois di tempat. ”Nggak pakai obat bius karena sudah nggak sempat ngambil lantaran kami terus ditembaki. Sakitnya plus-plus,” ungkapnya.

Setelah peristiwa itu, Rois tidak dapat menjalankan tugas di lapangan lagi. Kaki kirinya tidak berfungsi secara normal. Dia merasa tidak dibutuhkan. ”Yang paling membuat drop itu saat pakai kursi roda,” ucapnya.

Tapi, Rois tidak menyerah. Dia menjalani rehabilitasi dan pelatihan. ”Di sini saya belajar teknik pendingin. Benerin AC, kulkas, atau AC mobil,” imbuh Rois.

Kapten Oktovianus Lapang

Kaki kanan Oktovianus Lapang nyaris diamputasi. Penyebabnya, prajurit Kodam VII/Wirabuana itu mengalami kecelakaan saat menjalankan tugas penanggulangan bencana di Ambon, Maluku, pada 22 Desember 2013.

”Saya ditabrak pengendara motor ugal-ugalan sampai terlempar ke parit. Kaki saya patah,” kata Okto, sapaannya. ”Untung, istri saya mengupayakan agar lutut saya diperbaiki dengan lutut palsu. Meski mahal, uang bisa dicari,” lanjut pria kelahiran Ambon, 28 Oktober 1960, itu.

Meski kakinya selamat dari amputasi, Okto tidak dapat bertugas di lapangan. Dia harus menggunakan tongkat untuk berjalan. ”Saya merasa tidak berguna. Mau apa-apa harus dibantu orang. Saya ibarat kerikil di kesatuan,” ucapnya.

Okto menjalani rehabilitasi sejak Juli lalu. ”Di sini saya merasa mendapat mukjizat. Ternyata, yang lebih parah daripada saya banyak. Saya merasa tidak sendirian,” ujarnya. ”Saya ambil kursus musik. Nanti kalau pensiun bisa untuk main di gereja atau untuk di acara ulang tahun,” imbuh bapak dua anak tersebut.

0 Komentar