JABAR EKSPRES — Putaran demi putaran tubuh para penari sufi berlangsung tanpa jeda selama satu jam. Gerak yang perlahan berubah menjadi ritme meditatif itu bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah penghormatan terakhir.
Komunitas Mataholang menamai persembahan tersebut “Salam Perpisahan”, sebuah tari sufi berdurasi 3.600 detik untuk mengenang wafatnya Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Di tengah suasana duka yang menyelimuti Iran, komunitas ini memilih bahasa yang berbeda untuk menyampaikan belasungkawa. Bukan melalui pidato panjang atau seremoni formal, melainkan melalui tarian yang sarat makna spiritual.
Baca Juga:Indonesia-Kazakhstan Bentuk Komite Bersama, Buka Peluang Investasi Industri di Kawasan Eurasia5.597 Gerakan Pangan Murah Digelar, Bapanas: Untuk Tekan Inflasi
Pertunjukan tersebut digelar bertepatan dengan berakhirnya rangkaian prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei yang berlangsung sejak 3 Juli hingga 9 Juli 2026.
Prosesi itu menjadi perhatian dunia karena dihadiri jutaan warga Iran serta sejumlah delegasi internasional yang datang memberikan penghormatan terakhir.
Bagi Mataholang, tari sufi bukan hanya ekspresi artistik. Setiap putaran penari dimaknai sebagai simbol perjalanan jiwa, refleksi, sekaligus doa bagi mereka yang telah berpulang.
Selama 3.600 detik, ruang pertunjukan berubah menjadi ruang kontemplasi yang dipenuhi nuansa duka dan penghormatan.
Namun, pesan yang ingin disampaikan komunitas ini tidak berhenti pada ungkapan belasungkawa. Di balik gerakan yang mengalun tenang, mereka membawa narasi tentang solidaritas lintas bangsa yang menurut mereka berakar pada semangat Konferensi Asia Afrika 1955.
Hal itu terlihat dari kostum yang dikenakan penari, Gatot Gunawan. Mataholang memodifikasi busana yang terinspirasi dari gaya berpakaian Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan.
Komunitas itu menilai Soekarno merupakan simbol perjuangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika melawan kolonialisme, nilai yang mereka yakini memiliki keterkaitan historis dengan perjalanan politik Iran.
Baca Juga:DPRD Didorong Jadi Penggerak Pengembangan Ekonomi Kreatif di DaerahPermintaan China Dongkrak Ekspor Rempah Indonesia, Kapulaga Jadi Komoditas Unggulan
Menurut mereka, semangat Bandung bukan sekadar catatan sejarah, tetapi warisan pemikiran yang masih relevan dalam menghadapi dinamika geopolitik masa kini.
Melalui simbol-simbol budaya, Mataholang berupaya menghidupkan kembali gagasan solidaritas yang pernah menjadi fondasi hubungan negara-negara berkembang.
Di sisi lain, momentum penghormatan itu juga dimanfaatkan komunitas tersebut untuk menyampaikan pandangan terhadap kebijakan diplomasi Indonesia.
Dalam pernyataan resminya, Mataholang mengkritik respons pemerintah yang mereka nilai terlambat dalam menyikapi perkembangan di Teheran.
