Kopka Kabul Setia Budi
Kabul Setia Budi mengalami insiden yang mengerikan. Prajurit yang bertugas di Kodim 1207/BS Pontianak, Kalimantan Barat, itu mengalami kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan badan bagian pinggul ke bawah tidak berfungsi. ”Dilindas roda belakang kontainer,” kata Kabul.
Peristiwa yang terjadi tiga tahun lalu tersebut membuat kedua kaki Kabul remuk. Dia kini harus duduk di kursi roda. ”Saat kejadian, saya masih sadar, tapi sudah lemas,” ingatnya.
Sejak itu Kabul tinggal di rumah. Sehari-hari aktivitasnya hanya beristirahat. Selama itu pula seragamnya lebih kerap disimpan di lemari. Kabul kehilangan semangat. ”Ya sudah, saya diperintah untuk menjalani rehabilitasi. Ternyata, di sini banyak yang seperti saya. Saya diperlakukan sangat baik,” terangnya.
Baca Juga:Partai Idaman Tak Lolos VerifikasiJembatan Patah, Pangandaran-Banjar Putus
Meski hidupnya hanya bergantung pada kursi roda, Kabul tidak ingin dipandang sebelah mata. Pria kelahiran Magetan, 11 September 1966, tersebut belajar ilmu pertanian dan peternakan. ”Kebetulan, sebelum jadi tentara, saya kerjaannya beternak sapi dan kambing. Jadi, sudah ada dasarnya,” ucap dia santai.
Kopda Supriyanto
Kopral Dua (Kopda) Supriyanto sangat bersemangat saat diwawancarai Jawa Pos (Jabar Ekspres Group). Suaranya tegas. Prajurit yang bertugas di Pusdiklat Paskhas TNI-AU Bandung tersebut mengalami stroke ringan. Kondisi tersebut berawal dari kecelakaan latihan terjun payung pada 2011. ”Pendaratannya kurang sempurna. Saya tergelincir,” katanya.
Dampak kecelakaan itu baru dirasakan Supriyanto dua tahun berselang. Dia divonis dokter terkena stroke ringan. Dia sulit berkomunikasi dan bergerak. ”Saya jadi prajurit invalid, nggak berguna,” tuturnya. Padahal, di kesatuannya, dia adalah pelatih. ”Masak prajurit jadi invalid begini,” katanya.
Kecelakaan tersebut juga membuatnya mengalami sindrom takut ketinggian (acrophobia). Padahal, sebagai anggota TNI-AU, ketinggian merupakan hal yang tidak boleh ditakuti. ”Sekarang lihat flyover aja rasanya takut,” ujar pria kelahiran Kudus, 6 Mei 1981, itu.
Supriyanto malu jika ada orang yang bertanya mengenai cara berjalannya yang ”berbeda”. Sebab, dia sulit melangkah lurus ke depan. ”Saya bilang aja lagi sakit,” ungkapnya.
Namun, Supriyanto tidak mau menyerah. Dia bertekad sembuh. Meski tidak lagi diizinkan untuk terjun payung, dia ingin mengabdi kepada bangsa dengan cara lain.
