Kisah Nyeleneh Damkar Cimahi, Diminta Tagih Pinjol hingga Lepas Cincin Batu Akik

Kisah Nyeleneh Damkar Cimahi, Diminta Tagih Pinjol hingga Lepas Cincin Batu Akik
Ilustrasi penagih utang. Dok. Freepik
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Layanan darurat yang seharusnya difokuskan pada penanganan kebakaran dan penyelamatan, tak jarang dihadapkan pada permintaan di luar kewenangannya.

Hal itu diungkapkan Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Dinas Damkar Kota Cimahi, Achmad Suparlan, yang menceritakan pengalaman unik sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi pihaknya.

Saat diwawancarai Jabar Ekspres, Achmad mengungkap bahwa petugas Damkar pernah diminta membantu menagih utang oleh warga. Permintaan tersebut datang melalui laporan yang awalnya disampaikan sebagai kebutuhan bantuan darurat.

Baca Juga:Cerita Unik Damkar Cimahi: Padamkan Api, jadi Psikolog Putus Cinta hingga Rayakan Ulang Tahun WargaData Damkar Cimahi: Kejadian Kebakaran Menurun tapi Kasus Non Kebakaran Melonjak

“Nagih utang, utang piutang. Jadi, pas ke rumahnya dia, kita (Damkar) udah datang ke sana, eh nyuruh itu nagih pinjol, ya enggak bisa Damkar gitu, balik kanan aja gitu,” ujarnya saat ditemui dikantonya, di Komplek Taman Bumi Prima, Cibabat, Cimahi Utara, Selasa (31/3/2026).

Permintaan tersebut sontak mengejutkan, mengingat tugas utama Damkar bukan sebagai penagih utang atau debt collector. Bahkan, Achmad menegaskan bahwa pihaknya menolak tegas permintaan semacam itu.

“Waduh, jadi kolektor, debt collector, enggak mau Damkar gitu,” tegasnya.

Ia menjelaskan, modus laporan semacam itu biasanya tidak disampaikan secara gamblang sejak awal. Petugas baru mengetahui maksud sebenarnya setelah tiba di lokasi.

“Ada, ditolak ya kayak gitu. Ya mereka enggak bilang, bilangnya ke Damkar perlu bantuan, pas datang ke sana suruh nagih, Damkar balik lagi gitu. Seperti itu,” ujar Achmad menceritakan pengalamannya.

Menurut Achmad, kejadian tersebut menjadi pelajaran penting, baik bagi petugas maupun masyarakat. Ia menekankan pentingnya penggunaan layanan darurat secara bijak.

“Jadi emang ini jadi satu pelajaran bagi kita, pendewasaan bahwa ketika kita ini juga tetap menolong masyarakat, melayani masyarakat, juga tetap kita harus berpikir secara sehat,” bebernya.

Di sisi lain, ia juga memahami bahwa latar belakang masyarakat yang beragam memengaruhi cara mereka memanfaatkan layanan publik.

Baca Juga:Damkar Petakan Titik Rawan, Permukiman Padat di Cimahi Rentan KebakaranPenguatan Redkar Dinilai Mendesak, Damkar Cimahi Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Kebakaran

“Ya, kita juga enggak bisa nyalahin masyarakat. Karena masyarakat mah gitu, gimana lagi gitu. Soalnya bervariasi ya, dari tingkat pendidikan, umur, ya seperti itu,” tuturnya.

Achmad menjelaskan, sebagian besar laporan yang diterima Damkar Cimahi masuk melalui jalur komunikasi jarak jauh, terutama telepon dan aplikasi pesan.

0 Komentar