Neraca Dagang RI Berpeluang Membaik, Ekspor Juni 2026 Menguat

Neraca Dagang RI Berpeluang Membaik, Ekspor Juni 2026 Menguat
Ilustrasi ekspor Indonesia meningkat pada Juni 2026. (Dok. Pixabay)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso optimistis neraca perdagangan Indonesia akan membaik pada awal semester II 2026. Peningkatan kinerja ekspor, terutama dari sektor nonmigas, dinilai menjadi salah satu penopang utama perbaikan tersebut.

Budi berharap defisit neraca perdagangan Indonesia dapat kembali ditekan hingga tidak terjadi defisit pada Juli 2026. Ia mengatakan, ekspor nonmigas masih menunjukkan tren positif, sementara pertumbuhan ekspor sepanjang Januari-Juni 2026 juga terus meningkat.

“Bulan Juli ini harapan kami defisitnya menjadi tidak ada, karena kalua kita lihat (komoditas) nonmigasnya kan selalu surplus. Nonmigas dan pertumbuhannya kan selalu naik. Pertumbuhan ekspor kita Januari-Juni kan juga naik,” kata Mendag dikutip dari ANTARA, Selasa (18/08).

Baca Juga:Di Tengah Semarak HUT ke-81 RI, Bocah Linggaraja Sampaikan Keluhan Lewat Kostum KardusPemkab Tasikmalaya Riung Mungpulung Bersama Para Pejuang, Semangat Kemerdekaan Jadi Inspirasi Pembangunan

Berdasarkan data yang disampaikan, defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 tercatat sebesar 450 juta dolar AS. Angka tersebut membaik dibandingkan defisit pada Mei 2026 yang mencapai 1,61 miliar dolar AS.

Perbaikan tersebut tidak lepas dari peningkatan ekspor. Total ekspor Indonesia pada Juni 2026 mencapai 25,46 miliar dolar AS, naik 9,72 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 23,20 miliar dolar AS.

Kinerja ekspor terutama ditopang sektor nonmigas. Nilai ekspor nonmigas pada Juni 2026 mencapai 24,39 miliar dolar AS, meningkat 8,68 persen dari 22,45 miliar dolar AS pada Mei 2026.

Pada periode yang sama, perdagangan nonmigas Indonesia mencatat surplus sebesar 3,04 miliar dolar AS. Selain nilai ekspor, volume ekspor juga meningkat dari 54,71 juta ton pada Mei menjadi 56,52 juta ton pada Juni 2026, atau tumbuh 3,31 persen.

Menurut Budi, peluang perbaikan neraca perdagangan akan semakin besar apabila kondisi geopolitik global mulai mereda. Penurunan tensi konflik dan harga minyak dunia yang lebih stabil diyakini dapat membantu mengurangi tekanan terhadap perdagangan Indonesia.

“Jadi, kami optimis ya apalagi nanti kalau kondisinya (geopolitik) semakin membaik, artinya kondisi perang semakin berkurang, harga minyak turun,” ujar Budi.

Budi menjelaskan, tingginya harga minyak dunia menjadi salah satu faktor yang memperbesar defisit perdagangan dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut meningkatkan defisit sektor migas sehingga menekan surplus yang diperoleh dari sektor nonmigas.

Baca Juga:HUT ke-81 RI, Bupati Cecep Ajak Warga Rawat Persatuan untuk Wujudkan Tasikmalaya Lebih SejahteraFK Tagana Tasikmalaya Perkuat Kesiapsiagaan Warga, Kerahkan 20 Personel Bersihkan DAS Cikunten

“Kemarin factor defisitnya bulan Mei-Juni itu kan karena pas bulan Maret-April itu harga minyak dunia lagi tinggi-tingginya, sehingga tentu defisit migas kita menjadi lebih besar. Ketika defisit migas kita semakin besar sehingga mengalahkan (komoditas) yang surplus tadi,” kata Mendag.

0 Komentar