JABAR EKSPRES – Suasana Cihampelas Walk (Ciwalk) Bandung mendadak riuh. Ratusan pengunjung memadati area atrium untuk menyaksikan langsung meet and greet film Harusnya Horror, yang menghadirkan sutradara sekaligus content creator Reza Oktovian alias Reza ‘Arap’ bersama sejumlah pemain.
Antusiasme penggemar sudah terasa sejak rangkaian acara dimulai. Penampilan disc jockey turut memanaskan suasana sebelum jajaran cast film menyapa penonton yang telah memenuhi area acara.
Teriakan histeris pun pecah ketika Teguh Prakoso (Tepe) menyambut kehadiran Reza Arap di atas panggung. Momen tersebut semakin meriah dengan celotehan dan interaksi para personel AAAClan yang membuat suasana meet and greet terasa lebih cair dan dekat dengan penggemar.
Baca Juga:Rayakan HUT ke-19, Edulab Siapkan Universitas di Bandung dan Ekspansi 20 Cabang Baru94 OKP dan PK KNPI Se-Kabandung Terima Kartu BPJS Ketenagakerjaan dari Bupati KDS
Dalam kesempatan tersebut, hadir sejumlah pemain Harusnya Horror, di antaranya George Tierson (Jot), Yukatheo Glen Widjaja (Yuka), Niko Junius, Teguh Prakoso (Tepe), serta Reza Oktovian yang sekaligus menjadi sutradara film tersebut.
Meet and greet ini menjadi bagian dari rangkaian promosi menjelang penayangan Harusnya Horror yang dijadwalkan hadir serentak di bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026.
Debut Reza Arap sebagai Sutradara
Harusnya Horror menjadi langkah perdana Reza Oktovian di kursi sutradara. Diproduksi oleh Ess Jay Pictures, film ini mencoba menghadirkan formula berbeda melalui perpaduan komedi dan horor yang dibalut cerita absurd, tetapi tetap menyimpan pesan mengenai hubungan antarmanusia.
Cerita film ini tidak hanya berfokus pada unsur menakutkan dan humor. Di dalamnya terdapat perjalanan persahabatan yang memperlihatkan proses saling mengenal, munculnya pengkhianatan, upaya memaafkan, hingga pengorbanan yang dilakukan demi orang-orang terdekat.
Menariknya, Harusnya Horror juga membawa isu yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini, terutama mengenai dunia kreator konten.
Film tersebut menyelipkan satir mengenai creator economy, ketika berbagai hal dalam kehidupan dapat berubah menjadi konten demi mengejar viralitas, perhatian publik, hingga keuntungan.
Dengan pendekatan komedi-horor, isu tersebut dikemas secara ringan dan absurd sehingga penonton tidak hanya diajak tertawa atau merasakan ketegangan, tetapi juga melihat realitas kehidupan kreator dari sudut pandang yang berbeda.
