Rekam Jejak PT BII, Kelola Proyek IPT Bandung dan Kiara Artha Park

Rekam Jejak PT BII, Kelola Proyek IPT Bandung dan Kiara Artha Park
Kemacetan di Jalan Gatot Soebroto Bandung buntut galian proyek IPT. (son)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – PT Bandung Infra Investama (BII) jadi perusahaan yang jadi ujung tombak proyek Infrastruktur Pasif Telekomunikasi (IPT) Kota Bandung. Berikut sekilas fakta tentang Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang kini proyeknya ramai dibicarakan karena membuat macet di berbagai titik.

Proyek IPT tersebut dimulai sejak pertengahan 2024 lalu. Niatnya adalah mengubah kabel udara yang ada di Kota Bandung menjadi sistem bawah tanah atau ducting. Proyek berjalan dengan skema non APBD, tapi kolaborasi dengan sejumlah operator yang nanti menjadi mitra pengguna.

Berdasarkan data Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK, PT BII merupakan satu dari sejumlah BUMD Pemkot Bandung. Di tahun anggaran 2024, PT BII turut menyetorkan dividen ke Pemkot Bandung senilai Rp 2,4 miliar.

Baca Juga:Waspada! Hubungan Seks Oral dapat Mengakibatkan KematianBapanas Perketat Pengawasan Jelang HBKN 2026, Harga Pangan Mulai Turun

Angka tersebut naik jika dibandingkan setoran 2023 yang hanya di angka Rp 2,3 miliar.

Setorannya terbilang besar dibandingkan BUMD lain, misalnya Perumda Pasar Juara yang 0 rupiah setoran dividen ataupun Perumda Bank Bandung yang juga 0 rupiah.

Termasuk Koperasi Pegawai Pemerintah Kota Bandung dengan setoran Rp 300 juta. Bahkan jika dibandingkan dengan Perumda Tirta Wening yang hanya Rp 1,6 miliar.

Perusahaan di bawah komando Asep Wawan Dharmawan sebagai Direktur Utama itu sempat dikucur sejumlah modal oleh Pemkot sejak berdiri. Yakni Rp 5,250 miliar pada 2017 dan Rp 578,6 miliar pada 2019 dalam bentuk aset tanah.

Dari informasi yang dihimpun, PT BII ternyata tidak hanya mengelola bisnis dalam bidang telekomunikasi, salah satu proyek usaha lainya adalah pengelolaan Kiara Artha Park.

Kawasan di samping Layang Kiaracondong itu dikelola dengan skema KSO sejak 2018 dengan waktu 30 tahun. Mitranya adalah PT Mega chandra Purabuana.

Kawasan itu dikembangkan sebagai area atau fasilitas kegiatan MICE tapi juga diintegrasikan dengan Taman Asia Afrika. Sehingga konsepnya menyisakan lahan sekitar 2,6 hektar ruang terbuka hijau yang juga bagian dari pengendali air di wilayah Kiaracondong.

Baca Juga:Kuota Impor Dipangkas Tajam, Industri Daging Khawatir Harga Kian MelonjakPelemahan Ekonomi Singapura Jadi Momentum Strategis bagi Indonesia

Kini kawasan Kiara Artah Park juga kian tumbuh dengan berbagai sarana komersil, mulai dari Lapangan Padel, ruko, hingga yang terbaru bakal dibangun Hotel Bintang 4.

Kerja sama pembangunan hotel itu diteken pada November 2024 lalu. Yakni antara PT BII dengan Artotel Group.(son)

0 Komentar