Waspada! Hubungan Seks Oral dapat Mengakibatkan Kematian

Waspada! Hubungan Seks Oral dapat Mengakibatkan Kematian
Dr. Rizky Fajar Meirawan ketika menjalani proses Ujian Promosi Doktoral Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia pada 10 Januari 2025. (ISTIMEWA)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Hubungan seks oral terbukti meningkatkan risiko infeksi T. gondii hingga 6 kali lipat pada pasien HIV/AIDS. Temuan ini berdasarkan penelitian dari Dr. Rizky Fajar Meirawan, berserta tim.

Populasi dalam studi ini adalah 197 pasien HIV/AIDS yang menjalani terapi ARV di wilayah Jakarta, Bekasi, Bogor, dan Depok.

Selain hubungan seks oral, hubungan seks anal juga menjadi faktor risiko infeksi T. gondii pada pasien HIV/AIDS.

Baca Juga:Bapanas Perketat Pengawasan Jelang HBKN 2026, Harga Pangan Mulai TurunKuota Impor Dipangkas Tajam, Industri Daging Khawatir Harga Kian Melonjak

Fakta ilmiah ini menjadi dasar edukasi dan promosi kesehatan, khususnya bagi pasien HIV/AIDS, dan populasi khusus yang rentan terinfeksi HIV/AIDS, seperti pasangan dan partner seksual pasien HIV/AIDS, individu dengan orientasi seksual homoseksual dan gay, laki-laki dan wanita pekerja seksual, serta waria.

Dr. Rizky Fajar Meirawan, selaku ketua tim peneliti menyatakan, “Parasit T. gondii dalam fase kista, bradizoit, dan takizoit, dapat berada pada cairan ejakulasi dan semen pada pria. Oleh karenanya, hubungan seks oral tanpa menggunakan kondom, dapat menjadi rute infeksi, karena saat berhubungan seks oral, parasit yang terdapat dalam cairan semen dan ejakulat tersebut dapat tertelan,”.

Lebih lanjut, peneliti dan pengajar dari Universitas Indonesia Maju ini menambahkan, hubungan seks anal juga menjadi faktor risiko infeksi T. gondii. Besar kemungkinan, cairan ejakulasi dalam semen yang tercemar parasit T. gondii dapat masuk ke usus besar dan saluran cerna, melalui rute seks anal tanpa menggunakan pengaman atau kondom.

Infeksi T. gondii menjadi salah satu penyakit infeksi oportunistik, yang berbahaya dan menyebabkan kematian pada pasien HIV. Infeksi T. gondii pada otak dapat menyebabkan radang selaput otak (meningitis) dan radang otak (encephalitis).

Selain itu, penyakit ini juga menyebabkan kebutaan karena adanya occular toxoplasmosis. Seluruh gejala klinis ini mayoritas terjadi pada pasien HIV, yang telah mengalami penurunan status imunitas atau kekebalan tubuh (imunokompromi).

Dalam kondisi pasien HIV masih dalam kondisi imunitas yang baik atau imunokompeten, infeksi T. gondii tidak menunjukkan gejala klinis berat.

Mayoritas infeksi T. gondii pada individu imunokompeten, hanya memunculkan gejala klinis mirip infeksi flu atau flu-like symptoms.

0 Komentar