Pelemahan Ekonomi Singapura Jadi Momentum Strategis bagi Indonesia

Pelemahan Ekonomi Singapura Jadi Momentum Strategis bagi Indonesia
Ilustrasi lemahnya ekonomi Singapura jadi momentum strategis bagi Indonesia. (Dok. Pixabay)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pelemahan ekonomi Singapura dinilai bukan sekadar fenomena regional, melainkan momentum strategis yang harus dimanfaatkan Indonesia secara terukur dan sistematis.

Anggota Komisi VII DPR RI Hendry Munief menegaskan, pemerintah perlu menangkap berbagai peluang yang hadir akibat pelemahan ekonomi Singapura.

Menurut Hendry, kondisi ini memang memberi dorongan positif terhadap aktivitas ekonomi Batam. Namun tanpa pengaturan yang tepat, peluang tersebut justru bisa memunculkan persoalan baru, mulai dari gangguan distribusi barang hingga tekanan harga di dalam negeri.

Baca Juga:Transmigrasi Bertransformasi, dari Bagi Lahan Menuju Pusat Pertumbuhan Ekonomi BaruJelang Ramadhan 2026, Pemerintah Gelontorkan Bantuan Rp11,92 Triliun untuk Jaga Daya Beli 

“Kondisi Singapura ini harus kita lihat ini sebagai peluang. Pemerintah mempersiapkan segala sesuatu agar Indonesia menjadi alternatif terbaik bagi masyarakat dan pengusaha yang selama ini ada di Singapura,” kata Hendry dikutip dari ANTARA, Kamis (12/11/2026).

Menurutnya, akhir-akhir ini ekonomi Kota Batam menggeliat kencang, setelah adanya pelemahan ekonomi Singapura. Kondisi ini pun disikapi dengan baik, dianggap sebagai peluang dan tantangan.

Hendry juga mengatakan Batam mempunyai peran strategis sebagai kawasan perbatasan sekaligus pintu gerbang utama pariwisata internasional di wilayah barat Indonesia.

Dengan dekatnya kondisi geografis dengan Singapura, dukungan konektivitas transportasi lintas negara, serta status sebagai Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Zone) menjadikan Batam sebagai magnet utama wisatawan mancanegara, khususnya dari Singapura.

“Berdasar data BPS, kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam menunjukkan tren peningkatan yang sangat signifikan. Pada periode Januari-Agustus 2025, total kunjungan wisman mencapai lebih dari 1 juta orang, dengan sekitar 50-65 persen di antaranya berasal dari Singapura,” ujarnya.

Banyaknya tingkat kunjungan ke Batam saat ini tidak terlepas dari melemahnya ekonomi Singapura saat ini yaitu tren warga Singapura pada Sabtu-Minggu berbelanja kebutuhan sehari-hari di Batam.

Hal ini pun, menurut Hendry, disebabkan harga barang di Singapura yang sangat tinggi.

Baca Juga:Masih Hadapi Tantangan untuk Tembus Pasar Kanada, UMKM Indonesia Masih Butuh Pembinaan Simbol Kedaulatan Pangan Nasional, Bapanas Pastikan Kelancaran Proses Ekspor Beras Haji ke Arab Saudi

“Efeknya saat ini adanya orientasi singkat, hanya satu atau dua hari, rata-rata lama tinggal wisatawan sekitar 1,86 hari. Pola ini menunjukkan karakteristik wisata singkat yang cenderung berorientasi pada aktivitas belanja (shopping tourism), bukan wisata berbasis pengalaman jangka panjang,” kata Hendry.

0 Komentar