Belakangan, muncul pula istilah quiet cracking—kondisi ketika pekerja tetap hadir dan menjalankan tugas, tetapi secara emosional tertekan dan kehilangan motivasi. Ia menandai fase di mana batas sudah ditarik, namun tekanan struktural membuat kelelahan tetap tak terhindarkan.
Dua Generasi, Dua Cara Memaknai Kerja
Di Indonesia, terutama di kota-kota besar, perdebatan tentang kerja dan identitas ini terasa jelas dalam relasi antargenerasi—khususnya antara Generasi Milenial dan Generasi Z.
Bagi banyak Milenial, kerja adalah jalan pembentukan identitas. Mereka tumbuh di masa ketika stabilitas ekonomi dianggap rapuh dan mobilitas sosial hanya bisa diraih lewat kerja keras. Memasuki dunia kerja pasca-krisis ekonomi global, lembur dan kerja ekstra dipahami sebagai investasi masa depan. Jam kerja panjang kerap dipandang lebih “bernilai” daripada waktu luang.
Baca Juga:ibis Bandung Pasteur Hadirkan “Ririungan Ramadhan”, Buka Puasa All You Can Eat dengan Live MusicAwal 2026, BULOG Kancab Bandung Gencarkan Penyerapan GKP di Sentra Produksi Padi Sumedang
Narasi sukses yang beredar di media sosial memperkuat etos ini. Bekerja di luar jam kantor bukan sekadar tuntutan profesional, melainkan sumber kebanggaan. Namun seiring waktu, konsekuensinya mulai terasa. Burnout, kelelahan emosional, dan kaburnya batas antara kerja dan hidup pribadi menjadi pengalaman yang kian umum meski sering tidak diakui secara terbuka.
Di sisi lain, Generasi Z datang dengan kacamata berbeda. Tumbuh di era digital dan keterbukaan diskursus kesehatan mental, mereka menyaksikan kelelahan generasi sebelumnya. Dari sana, muncul sikap yang lebih kritis terhadap glorifikasi kerja tanpa batas.
Di Jepang, negara yang lama dikenal dengan budaya kerja ekstrem, fenomena ini tampak jelas. Sebuah survei terhadap ribuan pekerja muda menunjukkan bahwa hampir separuh responden berusia 20-an lebih memilih hanya menyelesaikan tugas-tugas yang tercantum jelas dalam deskripsi pekerjaan. Quiet quitting di sana dibaca sebagai perlawanan halus terhadap karoshi—kematian akibat kerja berlebihan.
Di Indonesia, gema yang sama terdengar. Bagi banyak Gen Z, kerja bukan satu-satunya sumber identitas. Keseimbangan hidup, kesehatan mental, dan waktu di luar pekerjaan menjadi nilai yang dinegosiasikan secara terbuka—sesuatu yang dahulu kerap dianggap tabu.
Fenomena Global, Bahasa Lokal
