Ditulis oleh Chessa At Thariq, Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana USAHID
Di sebuah taman kota di Jakarta Selatan, tiga sahabat duduk sambil menyeruput es kopi susu di penghujung hari kerja. Obrolan mereka terdengar ringan, namun isinya sarat makna. Satu mengeluhkan pesan WhatsApp dari klien yang terus masuk di malam hari. Yang lain justru tersenyum bangga karena berhasil pulang tepat waktu dan menyelesaikan pekerjaan begitu jam kantor usai. Percakapan sederhana ini mencerminkan lanskap budaya kerja masa kini yang terbagi antara dorongan untuk terus bekerja dan keberanian untuk menarik batas.
Kedua sikap tersebut kini dikenal melalui istilah yang kerap berseliweran di media sosial dan ruang diskusi publik: hustle culture dan quiet quitting. Namun lebih dari sekadar jargon populer, keduanya menandai perubahan budaya kerja yang lebih dalam tentang bagaimana generasi muda memaknai diri, pekerjaan, dan kehidupan di dunia yang saling terhubung, tetapi kian ambigu soal nilai.
Ketika Kerja Keras Menjadi Gaya Hidup
Baca Juga:ibis Bandung Pasteur Hadirkan “Ririungan Ramadhan”, Buka Puasa All You Can Eat dengan Live MusicAwal 2026, BULOG Kancab Bandung Gencarkan Penyerapan GKP di Sentra Produksi Padi Sumedang
Hustle culture merujuk pada gaya hidup yang menempatkan kerja keras ekstrem dan produktivitas tanpa henti sebagai standar ideal. Dalam budaya ini, sibuk bukan lagi kondisi sementara, melainkan identitas. Semakin panjang jam kerja, semakin besar pula legitimasi sosial yang melekat. Kerja keras diposisikan bukan hanya sebagai kewajiban profesional, tetapi juga sebagai ukuran nilai diri.
Budaya ini tumbuh subur di era globalisasi, kompetisi ekonomi, dan narasi sukses yang diproduksi tanpa henti oleh media sosial. Cerita tentang mereka yang “berjuang dari nol”, bekerja siang malam, dan akhirnya berhasil menjadi semacam mitos modern yang terus direproduksi dan ditiru.
Sebaliknya, quiet quitting hadir sebagai antitesis yang sunyi. Ia bukan berarti benar-benar berhenti bekerja, melainkan hanya bekerja sesuai deskripsi tugas tanpa tambahan kontribusi emosional, waktu ekstra, atau pengorbanan personal yang tidak disepakati. Quiet quitting lebih merupakan pernyataan batas daripada penolakan terhadap kerja itu sendiri.
Istilah ini mulai populer sejak 2022 dan cepat menemukan resonansi di kalangan generasi muda. Di tengah tuntutan kerja yang kian kabur batasnya, quiet quitting menjadi bahasa baru untuk mengatakan: cukup.
