Di tengah globalisasi dan digitalisasi, generasi muda di Indonesia, Jepang, dan berbagai belahan Global South sedang menulis ulang definisi kerja. Bukan lagi soal seberapa keras bekerja, melainkan bagaimana bekerja dengan bermakna, seimbang, dan tetap utuh sebagai manusia.
Budaya kerja baru ini mungkin masih mencari bentuk. Namun satu hal jelas, ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan bahasa baru yang menautkan penghormatan diri, relasi sosial, dan harapan akan masa depan kerja yang lebih manusiawi.
