Ketika Sibuk Menjadi Identitas: Hustle Culture, Quiet Quitting, dan Dua Generasi yang Mencari Makna Kerja

Chessa At Thariq, Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana USAHID
Chessa At Thariq, Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi Sekolah Pascasarjana USAHID
0 Komentar

Pergeseran ini tidak hanya terjadi di Asia. Di banyak wilayah Global South lainnya seperti Amerika Latin dan Afrika, tempat sekitar 85 persen populasi muda dunia tinggal, generasi muda menghadapi tantangan struktural yang berat seperti akses kerja terbatas, ketimpangan pendidikan, dan tekanan ekonomi yang nyata.

Laporan World Economic Forum 2025 menunjukkan bahwa di tengah keterbatasan kesempatan dan tekanan ekonomi, kaum muda justru tampil sebagai penggerak inovasi sosial. Mereka tidak hanya mempertanyakan kembali makna kerja, tetapi juga aktif menciptakan solusi bersama untuk persoalan nyata mulai dari pengangguran hingga krisis iklim. Dalam konteks ini, kerja tidak lagi dipahami sekadar sebagai soal target dan produktivitas pribadi, melainkan sebagai cara berkontribusi bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

Quiet Quitting sebagai Bahasa Budaya

Quiet quitting kerap disalahpahami sebagai kemalasan atau sikap pasif. Padahal, banyak pakar melihatnya sebagai bentuk adaptasi psikologis terhadap sistem kerja yang tidak lagi memenuhi kebutuhan dasar manusia: makna, penghargaan, dan keseimbangan.

Baca Juga:ibis Bandung Pasteur Hadirkan “Ririungan Ramadhan”, Buka Puasa All You Can Eat dengan Live MusicAwal 2026, BULOG Kancab Bandung Gencarkan Penyerapan GKP di Sentra Produksi Padi Sumedang

Dalam perspektif budaya, quiet quitting adalah bentuk komunikasi. Ia adalah cara generasi muda menegosiasikan ekspektasi sosial tanpa konfrontasi terbuka—menarik batas secara halus, namun tegas. Di masyarakat kolektivistik seperti Indonesia, pendekatan semacam ini terasa lebih “aman” ketimbang penolakan frontal.

Diskusi tentang quiet quitting kini mengalir di berbagai ruang—dari grup WhatsApp kantor hingga podcast dan forum mahasiswa. Banyak yang menegaskan keinginan untuk tetap profesional, tetapi menolak budaya kerja yang menguras emosi tanpa imbalan yang adil.

Di Antara Batas dan Tekanan

Namun batas tidak selalu cukup. Fenomena quiet cracking menunjukkan bahwa di balik sikap tenang dan profesional, ada pekerja yang bertahan semata karena ketidakpastian ekonomi. Mereka tidak berhenti, tetapi juga tidak benar-benar terlibat. Ini mengingatkan bahwa perubahan budaya kerja tidak bisa dilepaskan dari konteks struktural yang lebih luas.

Menulis Ulang Makna Kerja

Pada akhirnya, perdebatan tentang hustle culture dan quiet quitting bukan semata soal jam kerja atau produktivitas. Ia adalah refleksi budaya tentang bagaimana manusia memaknai kerja dalam hidupnya.

0 Komentar