Diminta Dibongkar Namun Tak Digubris, Halte TMB Cinunuk Kian Kumuh dan Rawan Kecelakaan

Bangunan halte Trans Metro Bandung (TMB) yang berdiri di pinggir Jalan Raya Cinunuk, wilayah Kecamatan Cileuny
Bangunan halte Trans Metro Bandung (TMB) yang berdiri di pinggir Jalan Raya Cinunuk, wilayah Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung sudah kumuh dan rusak berat memprihatinkan. (Jabar Ekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Bangunan halte Trans Metro Bandung (TMB) yang berada di pinggir Jalan Raya Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, kini dalam kondisi kumuh dan rusak berat. Keberadaannya menuai sorotan karena dinilai tidak berfungsi dan justru membahayakan pengguna jalan.

Kondisi halte TMB tersebut memunculkan pertanyaan publik terkait manfaat dan kelayakannya. Selain dipenuhi kerusakan, keberadaan halte juga dinilai berpotensi memicu kecelakaan lalu lintas, khususnya bagi pejalan kaki.

Keluhan mengenai halte TMB yang kian memprihatinkan ini sudah berlangsung cukup lama. Sejumlah warga telah menyampaikan aduan kepada pemerintah desa hingga Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Cinunuk. Menindaklanjuti hal tersebut, pihak desa dan BPD sempat mengirim surat kepada dinas terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung untuk meminta pembongkaran halte.

Baca Juga:Ini 4 Jenis Olahraga Ringan, Tubuh Makin Sehat!Kolaborasi! UNINUS dan IDIP RI Gelar Webinar Internasional Pendidikan

Namun hingga kini, permintaan tersebut belum mendapat kejelasan, meski telah diketahui Camat Cileunyi. Alih-alih ditangani, kondisi halte justru semakin kumuh.

“Halte TMB sekarang makin memprihatinkan. Saya sangat prihatin karena selain kumuh, keberadaannya juga rawan membahayakan pejalan kaki,” ujar Ketua RW 27 Kompleks Permata Biru, Desa Cinunuk, Rudi Wahyudi.

Menurut Rudi, dinas terkait perlu segera turun langsung meninjau kondisi halte dan melakukan pembongkaran demi keselamatan serta kenyamanan masyarakat. Ia menambahkan, warga siap bergotong royong jika telah ada izin resmi.

Berdasarkan pantauan Jabar Ekspres, halte yang dibangun di atas trotoar dan saluran drainase di pinggir sungai tersebut tampak tak terurus. Kaca-kacanya pecah, bagian dalamnya dipenuhi sampah, serta dipenuhi coretan vandalisme. Drainase di bawah halte juga tersumbat tumpukan sampah, sementara karung berisi lumpur dan sampah bekas pembersihan dibiarkan menumpuk.

Keberadaan pohon beringin yang rimbun di belakang halte semakin menambah kesan angker di sekitar lokasi. Padahal, posisi halte berada di depan Kantor Desa Cinunuk, Puskesmas, SDN Cinunuk, serta dekat belokan gerbang Kompleks Permata Biru, yang membuatnya sangat berbahaya terutama bagi anak-anak sekolah.

Pejalan kaki yang hendak naik atau turun angkutan umum maupun menuju Kompleks Permata Biru harus berhadapan langsung dengan arus kendaraan dari arah Cileunyi menuju Cibiru yang kerap melaju dengan kecepatan tinggi. Meski telah dibangun jembatan penyeberangan, fungsinya tidak optimal karena aksesnya terhalang bangunan halte, sehingga pejalan kaki terpaksa menyusuri badan jalan.

0 Komentar