Sampah Menggunung di Permukiman, Krisis Sampah Bayangi Bandung

Sampah Menggunung di Permukiman, Krisis Sampah Bayangi Bandung
penumpukan sampah mulai terlihat di salah satu gang di wilayah Arcamanik, Kota Bandung. sampai saat ini, belum juga ada pengangkutan terkait penyelesaian tumpukan sampah tersebut. (Sadam / Jabarekspres)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kota Bandung tengah berada di ambang krisis sampah menyusul kebijakan pembatasan kuota pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Pengurangan kuota ini berpotensi menyebabkan sekitar 200 ton sampah per hari tidak terangkut dan tidak terkelola, sehingga meningkatkan risiko penumpukan di lingkungan permukiman warga.

Ancaman krisis tersebut diprediksi mulai terjadi sejak 12 Januari 2026. Setiap harinya, timbulan sampah di Kota Bandung dapat mencapai 1.500 ton, seiring tingginya aktivitas rumah tangga, perdagangan, dan jasa di wilayah perkotaan.

Namun, kapasitas pengolahan sampah mandiri yang dimiliki pemerintah kota hingga saat ini baru mampu menangani sekitar 300 ton per hari.

Baca Juga:KPK Resmi Tetapkan Mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Kuota HajiRealisasi Penerimaan Pajak 2025 Capai Rp1.917,6 Triliun, Kemenkeu: Secara Bruto Tumbuh 3,7 Persen

Di sisi lain, kuota pembuangan sampah Kota Bandung ke TPA Sarimukti mengalami penurunan signifikan. Sebelumnya, Kota Bandung memperoleh jatah pembuangan sebesar 1.200 ton per hari.

Kebijakan tersebut kemudian dikurangi menjadi 980 ton per hari. Pada akhir 2025, pemerintah kota sempat mendapatkan relaksasi sehingga kuota kembali ke angka 1.200 ton per hari, menyusul meningkatnya tekanan akibat krisis sampah.

Namun, memasuki 2026, relaksasi tersebut tidak lagi diberlakukan. Artinya, mulai tahun ini, Kota Bandung kembali hanya diperbolehkan membuang sampah ke TPA Sarimukti sebanyak 980 ton per hari.

Dengan selisih antara timbulan sampah, kapasitas pengolahan mandiri, dan kuota pembuangan, terdapat sekitar 200 ton sampah per hari yang berpotensi tidak tertangani.

Dampak dari kondisi tersebut mulai terlihat di lapangan, pada Senin (12/1/2026), tumpukan sampah tampak di salah satu gang permukiman warga di wilayah Cisaranten Kulon, Kecamatan Arcamanik.

Sampah rumah tangga terlihat menggunung di tepi gang sempit, terdiri dari kantong plastik, sisa makanan, dan limbah rumah tangga lainnya. Hingga siang hari, belum terlihat adanya pengangkutan oleh petugas kebersihan kewilayahan.

Seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya mengaku kondisi ini menimbulkan kekhawatiran. Ia menyebut tumpukan sampah mulai muncul sejak beberapa hari terakhir dan semakin bertambah karena belum diangkut.

Baca Juga:Diskon Tarif Listrik untuk Korban Bencana Sumatra, Menkeu: Masih Menunggu Usulan Resmi Wamenaker Sebut Dukungan Pemda Penting dalam Kebijakan Penetapan Upah 

“Biasanya sampah tidak sampai menumpuk lama. Sekarang sudah menumpuk belum juga diangkut, baunya mulai tercium dan mengganggu aktivitas warga,” katanya kepada Jabarekspres.

Warga juga khawatir tumpukan sampah tersebut dapat berdampak pada kesehatan lingkungan, terutama jika hujan turun dan sampah menyumbat saluran air. Selain itu, keberadaan sampah yang tidak terkelola dikhawatirkan menjadi sumber penyakit dan menurunkan kualitas lingkungan permukiman.

0 Komentar