Kurangi Sampah Plastik, ITB Olah Styrofoam Jadi Perekat Bernilai Ekonomi

Tim Pengabdian pada Masyarakat (PPM) Bottom Up Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Ban
Tim Pengabdian pada Masyarakat (PPM) Bottom Up Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar pelatihan pengolahan sampah plastik styrofoam menjadi perekat bernilai guna dan bernilai ekonomi bagi masyarakat Desa Cibeusi, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Sabtu (18/7/2026)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Tim Pengabdian pada Masyarakat (PPM) Bottom Up Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar pelatihan pengolahan sampah plastik styrofoam menjadi perekat bernilai guna dan bernilai ekonomi bagi masyarakat Desa Cibeusi, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Sabtu (18/7/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari PPM SITH ITB Topik Khusus Pengelolaan Sampah Tahun 2026.

Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola sampah plastik sekaligus mendorong pemanfaatan limbah styrofoam menjadi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi.

Baca Juga:Pemkab Tasikmalaya Perkuat Mitigasi Kekeringan, Lintas Sektor Disiagakan Hadapi Meluasnya Dampak KemarauDipulangkan karena Kenakalan, 8 Siswa SMP di Tasikmalaya Menolak Pindah Sekolah

Selain mengurangi pencemaran lingkungan, hasil olahan tersebut diharapkan dapat menjadi peluang usaha baru bagi warga.

Tim PPM dipimpin oleh Dr. Ir. Tati Karliati dari SITH ITB sebagai ketua, dengan anggota Dr. Ir. Rudi Dungani, Dr. Ir. Anne Hadiyane, Dr. Deni Nugraha, S.E., M.Si. dari SAPPK ITB, serta Nita Nur Rezkia, M.Agr. dari FPTI UPI.

Ketua Tim PPM, Dr. Ir. Tati Karliati, menjelaskan bahwa pelatihan tersebut dilatarbelakangi tingginya penggunaan kemasan makanan berbahan styrofoam di kawasan Jatinangor yang merupakan daerah pendidikan dengan ribuan mahasiswa.

Kebiasaan membeli makanan siap saji menyebabkan limbah styrofoam terus meningkat, sementara material tersebut sulit terurai dan belum banyak dimanfaatkan.

“Jatinangor merupakan kawasan pendidikan dengan banyak mahasiswa yang lebih sering membeli makanan siap saji. Akibatnya, sampah styrofoam cukup melimpah. Berangkat dari kondisi tersebut, kami memilih Desa Cibeusi sebagai lokasi pengabdian untuk memberikan solusi melalui pemanfaatan limbah styrofoam menjadi produk yang bermanfaat,” ujar Tati.

Menurutnya, tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar mengajarkan pembuatan perekat, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah sejak dari rumah tangga.

“Kunci pengelolaan sampah adalah pemilahan sejak dari keluarga. Jika masyarakat sudah terbiasa memilah sampah dari rumah, proses pengolahan selanjutnya akan jauh lebih mudah dan memberikan nilai tambah,” katanya.

Baca Juga:Pemkab Tasikmalaya Siap Dukung Sekolah Alam Hayati, DPUTRLH Buka Peluang Kolaborasi hingga PendanaanKNPI Kabupaten Tasikmalaya Tancap Gas, Digitalisasi UMKM dan Penciptaan Wirausaha Muda Jadi Prioritas

Tati menjelaskan, styrofoam memiliki kandungan polistirena yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan perekat. Melalui proses pelarutan menggunakan bahan yang mudah diperoleh masyarakat, limbah tersebut dapat diolah menjadi perekat yang memiliki daya rekat tinggi dan tahan terhadap air.

0 Komentar