JABAR EKSPRES – Tinggi Muka Air (TMA) Bendung Katulampa di Kecamatan Bogoe Timur, Kota Bogor, masih bertahan di angka 0 sentimeter pada Sabtu siang (18/7/2026).
Petugas Bendung Katulampa, Muhammad Alwan, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi minimnya pasokan air dari wilayah hulu Sungai Ciliwung di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor.
Meski sempat turun hujan dengan intensitas sedang pada Jumat (17/7/2026) malam, debit Sungai Ciliwung tidak mengalami peningkatan sehingga TMA Bendung Katulampa masih bertahan di angka 0 sentimeter.
Baca Juga:Pemkab Tasikmalaya Perkuat Mitigasi Kekeringan, Lintas Sektor Disiagakan Hadapi Meluasnya Dampak KemarauDipulangkan karena Kenakalan, 8 Siswa SMP di Tasikmalaya Menolak Pindah Sekolah
“Untuk kondisi debit masih bertahan di TMA 0 sentimeter, walaupun semalam sempat ada hujan yang lewat tapi tidak menambahkan debit air, tetep TMA 0 sentimeter. Dampaknya memang mulai terasa karena musim kemarau,” kata Alwan di Kota Bogor, Sabtu (18/7/2026).
Kendati demikian, Bendung Katulampa masih mampu mengalirkan air irigasi dalam kondisi normal melalui anak Sungai Ciliwung, yakni Kali Baru hingga ke wilayah Jakarta
Selain itu, kata Alwan, Bendung Katulampa masih menggelontorkan air ke Sungai Ciliwung sebesar 200 liter per detik agar aliran sungai tetap terjaga selama musim kemarau.
“Kalau untuk irigasi masih normal di 3460 liter per detik atau 40 sentimeter. Penggelontoran 200 liter untuk ekosistem sungai,” ucapnya.
Warga Sekitar Alami Sumur Kering
Selain TMA Katulampa yang menurun hingga 0 sentimeter akibat musim kemarau, warga sekitar yang masih menggunakan sumur juga ikut terdampak kekeringan.
Endang (58), warga RT 01 RW 09 Kelurahan Katulampa, mengaku sumur di rumahnya sudah mengering selama sekitar dua pekan.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mandi, minum, hingga masak, Endang terpaksa mengambil air dari rumah anaknya yang sumurnya masih tersedia air.
Baca Juga:Pemkab Tasikmalaya Siap Dukung Sekolah Alam Hayati, DPUTRLH Buka Peluang Kolaborasi hingga PendanaanKNPI Kabupaten Tasikmalaya Tancap Gas, Digitalisasi UMKM dan Penciptaan Wirausaha Muda Jadi Prioritas
Dalam sekali pengambilan, keluarganya membawa sekitar delapan galon menggunakan sepeda motor.
“Ngambilnya banyak, sekitar delapan galon. Kalau habis nanti ngambil lagi, tapi habisnya ya enggak nentu waktunya. Sudah ada dua mingguan lah sumur di rumah saya kering, jadi sekarang di rumah enggak ada air,” kata Endang di Katulampa Kota Bogor, Sabtu (18/7/2026).
Sementara untuk mencuci pakaian, ia memanfaatkan aliran air anak Sungai Ciliwung di sekitar permukiman.
Endang mengaku belum memasang sambungan air perpipaan karena mempertimbangkan biaya langganan.
