JABAR EKSPRES – Harga telur ayam ras di Pasar Atas Baru Kota Cimahi mengalami kenaikan cukup signifikan setelah masa libur sekolah berakhir dan tahun ajaran baru 2026/2027 dimulai.
Kondisi tersebut tidak hanya dikeluhkan pedagang, tetapi juga berdampak pada daya beli masyarakat yang mulai mengurangi jumlah pembelian telur.
Sebelumnya, selama masa libur sekolah yang berlangsung pada 29 Juni hingga 12 Juli 2026, harga telur ayam ras sempat turun hingga berada di kisaran Rp23.000 per kilogram.
Baca Juga:Pemkab Tasikmalaya Perkuat Mitigasi Kekeringan, Lintas Sektor Disiagakan Hadapi Meluasnya Dampak KemarauDipulangkan karena Kenakalan, 8 Siswa SMP di Tasikmalaya Menolak Pindah Sekolah
Namun, sejak aktivitas sekolah kembali berjalan, harga perlahan merangkak naik sekitar Rp2.000 hingga kini berada di kisaran Rp26.000 bahkan ada yang Rp27.000 per kilogram di pasaran.
Salah seorang pedagang sembako di Pasar Atas Baru Cimahi, Hanna Subianti menjelaskan kenaikan harga telur mulai terasa sejak dimulainya kegiatan belajar mengajar pada tahun ajaran 2026/2027.
Menurutnya, kenaikan tersebut memicu keluhan dari para pembeli maupun pedagang karena pasokan barang dinilai semakin sulit diperoleh.
“Pastilah (mengeluh), karena waktu anak sekolah libur harga telur turun sampai Rp23.000/kg. Pedagang juga ngeluh, karena barangnya susah,” terangnya kepada Jabar Ekspres, Sabtu (18/7/2026).
Hanna menjelaskan, kenaikan harga mulai terlihat sejak 12 Juli 2026 atau bertepatan dengan berakhirnya masa libur sekolah.
Ia menyebut, harga telur sempat mengalami penurunan ketika Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dihentikan sementara selama libur sekolah. Namun, dalam beberapa hari terakhir harga kembali meningkat.
“Ya itu, menurut masyarakat umum mah, hari ini aja hampir merata Rp26.000 sampai Rp27.000,” ungkap dia.
Baca Juga:Pemkab Tasikmalaya Siap Dukung Sekolah Alam Hayati, DPUTRLH Buka Peluang Kolaborasi hingga PendanaanKNPI Kabupaten Tasikmalaya Tancap Gas, Digitalisasi UMKM dan Penciptaan Wirausaha Muda Jadi Prioritas
Lonjakan harga tersebut juga berdampak terhadap pola belanja masyarakat. Konsumen yang sebelumnya membeli telur dalam jumlah satu kilogram kini mulai mengurangi pembelian menjadi seperempat kilogram atau setengah kilogram.
“Betul sekali,” cetus Hanna.
Terkait sumber pasokan, Hanna mengatakan telur yang dijual berasal dari sejumlah agen yang berbeda. Di antaranya dari kawasan Kerkof Cibeber, dekat Kuburan Cina, kemudian dari Cianjur, Pasirkoja, hingga Citeureup.
Meski pasokan berasal dari berbagai daerah, seluruh agen disebut sama-sama menaikkan harga.
Namun, penyebab pasti kenaikan tersebut belum diketahui. Yang jelas, menurutnya, ketersediaan barang di pasaran sedang terbatas.
