Penataan Tanpa Keamanan, Jalur Wisata KBB–Subang Jadi Rawan Begal!

Penataan Tanpa Keamanan, Jalur Wisata KBB–Subang Jadi Rawan Begal!
Alat berat dikerahkan Pemprov Jawa Barat untuk meruntuhkan kios-kios di sepanjang jalur perbatasan Kabupaten Bandung Barat–Subang sebagai bagian dari penataan kawasan wisata. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Wajah jalur wisata di Perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang, kini tampak lebih rapi setelah aparat gabungan dari Pemprov Jawa Barat (Jabar) menertibkan deretan kios dan bangunan liar beberapa waktu lalu.

Jalur wisata menuju Tangkuban Parahu yang dulu dipenuhi pedagang, kini terlihat lengang. Namun di balik kerapihan itu, persoalan baru muncul, yakni jalanan yang sepi justru menimbulkan kerawanan kriminal dan kecelakaan lalu lintas.

Isu begal yang belakangan merebak di jalur Tanjakan Emen menjadi salah satu contoh nyata. Pesan berantai di media sosial bahkan memperingatkan warga agar tidak berkendara seorang diri, khususnya di malam hari.

Baca Juga:Penertiban Bangunan Liar di Cimahi Disorot, Warga Pertanyakan Sikap Tebang Pilih PemkotPemkot Bandung Siapkan Skema Penertiban di Arcamanik, 23 Bangunan Liar akan Dibongkar Guna Normalisasi Sungai

Kepala Desa Ciater, Iwan Setiawan, membenarkan adanya tindak kriminal di kawasan tersebut. Ia menceritakan peristiwa yang dialami seorang pengendara motor pada Selasa (19/8) sekitar pukul 19.00 WIB.

“Korban dipepet dua motor berisi empat orang. Diperkirakan pelaku membawa senjata tajam karena korban mengalami luka di tangan kiri,” ungkap Iwan saat dikonfirmasi, Senin (25/8/2025).

Beruntung, korban bisa melakukan perlawanan dengan berteriak meminta pertolongan hingga membuat pelaku kabur. Tidak ada barang berharga yang berhasil dibawa komplotan tersebut.

“Kami bertemu korban saat patroli dan menyarankan agar segera membuat laporan ke Polsek,” tambahnya.

Untuk mencegah kejadian serupa, pemerintah desa bersama relawan Desa Tangguh Bencana (Destana) mengintensifkan patroli malam di sepanjang jalur wisata Ciater.

Patroli ini, kata Iwan, dilakukan dengan menyisir titik rawan kejahatan dan area minim penerangan, membentang dari perbatasan Lembang hingga Palasari.

Setidaknya 25 anggota relawan ikut terlibat, menggunakan kendaraan inventaris BPBD Subang serta sepeda motor pribadi. Biaya operasional, seperti bahan bakar, diperoleh dari urunan internal relawan.

Baca Juga:Digitalisasi Meteorologi Pertanian Penting bagi Petani, Wamentan Sebut Ini Alasannya!Tunjangan Rumah Rp50 Juta Tuai Polemik, DPR RI : Agar Tak Bebani Negara

“Patroli jalan raya sepanjang tujuh kilometer. Untuk bensin sehari Rp100 ribu. Alhamdulillah relawan dengan sukarela enggak dibayar,” kata Iwan.

Menurutnya, sebelum kios-kios di jalur Ciater dan Tangkuban Parahu dibongkar, para pedagang kerap menjadi pihak pertama yang melaporkan insiden, baik kecelakaan lalu lintas maupun tindak kriminal. Setelah penertiban, mata dan telinga informal itu hilang.

0 Komentar