Aliran Sungai Tercemar Kotoran Sapi, Warga Bandung Barat Kehilangan Pasokan Air Bersih

Aliran Sungai Tercemar Kotoran Sapi, Warga Bandung Barat Kehilangan Pasokan Air Bersih
Sungai di kawasan Bandung Utara tercemar bakteri E Coli dari limbah kotoran hewan. Dok Jabar Ekspres /Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Limbah kotoran dari ribuan ekor sapi perah di wilayah Lembang, Cisarua, dan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB), hingga kini masih mencemari aliran sungai. Setiap hari, ratusan ton kotoran sapi dibuang tanpa pengolahan memadai, sehingga air sungai keruh dan sulit dimanfaatkan warga.

Menanggapi hal ini, kepala Dinas Peternakan dan Perikanan KBB, Wiwin Aprianti, mengakui masalah ini bukan persoalan baru, melainkan sudah berlangsung turun-temurun.

“Setiap ekor sapi bisa menghasilkan sekitar 12 kilogram kotoran per hari. Kalau dihitung dari 25.600 ekor sapi, jumlahnya mencapai ratusan ton per hari. Dampaknya sudah jelas, air keruh, pencemaran, dan kesulitan mendapatkan air bersih,” kata Wiwin saat dikonfirmasi, Rabu (20/8/2025).

Baca Juga:Sungai Cimeta Dipenuhi Busa Putih, Kecelakaan Truk Sabun di Padalarang Diduga PemicuSungai Cimeta di Padalarang Mendadak Dipenuhi Busa Putih, DLH Selidiki Dugaan Pencemaran Limbah

Dengan populasi sapi perah mencapai 25.600 ekor, diperkirakan ada lebih dari 300 ton kotoran yang dihasilkan setiap hari. Sayangnya, baru sekitar 30 persen dari 6.000 peternak yang memiliki fasilitas pengolahan limbah sendiri. Akibatnya, sebagian besar limbah sapi masih dibuang langsung ke sungai.

“Pencemaran kohe ini memang persoalan lama yang kian krusial. Kalau tidak segera diatasi, dampaknya bukan hanya ke lingkungan, tapi juga ke kesehatan masyarakat,” ujar Wiwin.

Menurutnya, Pemkab Bandung Barat tengah menyiapkan langkah strategis untuk mengurangi dampak pencemaran. Salah satunya dengan membangun beberapa tandon di hulu sungai agar air lebih jernih sebelum mengalir ke pemukiman warga.

“Kami akan pasang saringan di bagian atas tandon untuk memisahkan kotoran padat dari aliran air,” jelasnya.

Namun, lanjut Wiwin, pembangunan tandon tidak bisa dilakukan sendiri. Pihaknya menggandeng Dinas Perumahan dan Permukiman, Dinas Lingkungan Hidup, hingga kementerian terkait untuk merealisasikan program tersebut.

“Beberapa lahan potensial bahkan sudah diusulkan untuk fasilitas pengolahan limbah,” tambahnya.

Ia menambahkan, pemerintah Bandung Barat saat ini tengah mendorong pemanfaatan limbah sapi menjadi produk bernilai tambah, seperti pupuk organik dan media tanam.

Baca Juga:Penanganan Banjir di Kota Bandung Masih Berkutat Pada Pembebasan Lahan Aliran SungaiPemkot Cimahi Bongkar Bangunan Liar di Bantaran Sungai, Fokus Pulihkan Fungsi Aliran Air

“Selama ini, kotoran sapi dianggap limbah. Padahal jika diolah dengan benar, ini bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi peternak,” katanya.

Selain itu, Pemkab Bandung Barat juga menggandeng koperasi peternak, di antaranya Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU), KUD Puspa Mekar, dan KUD Sariwangi. Kerja sama ini, kata Wiwin, mencakup perdagangan produk olahan limbah, izin edar, hingga pemasaran.

0 Komentar