JABAR EKSPRES – Pengembangan pesawat taksi udara berbasis kendaraan udara tanpa awak (UAV) kini mulai dirintis di Kota Bandung. PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menggandeng perusahaan teknologi Intercrus dalam merancang hal tersebut.
Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan menyebut, melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada Kamis, (13/6) lalu, kolaborasi ini terjalin antara kedua belah pihak dalam perancangan prototype 1:7 pesawat taksi udara Solita S-1701.
Hal itu, katanya, bertujuan untuk memperkuat ekosistem industri kedirgantaraan nasional di sektor Advanced Air Mobility (AAM). “PTDI sangat menyambut baik kerja sama ini,” tulis Gita diterima Jabar Ekspres, Selasa (17/6).
Baca Juga:28 Adegan Rekonstruksi Bongkar Sadisnya Cucu Habisi Nenek Kandung di CiamisBerkas Kasus Priguna Belum Lengkap, Kejati Jabar Siap Kembalikan ke Penyidik Polda
Dia melanjutkan, proyek tersebut akan difokuskan pada pengembangan sistem propulsi elektrik dan struktur UAV, termasuk teknologi navigasi dan kontrol.
PTDI menyatakan, komitmennya untuk mendukung inovasi transportasi masa depan melalui riset dan pengembangan yang dilakukan di Bandung.
“Kami percaya kolaborasi ini dapat membawa kemajuan dalam pengembangan teknologi UAV dan memperkuat posisi Indonesia dalam industri AAM,” sambungnya.
Sementara itu, CEO Intercrus, Awan Andhika menekankan, kerja sama ini sejalan dengan misi perusahaannya dalam menciptakan solusi mobilitas cerdas dan berkelanjutan.
Dirinya menambahkan, sebagai perusahaan teknologi yang bergerak dalam pengembangan sistem tak berawak, Intercrus akan berkontribusi pada desain aerodinamika dan sistem kendali UAV.
Sementara itu PTDI, sebagai produsen pesawat terkemuka di Indonesia, akan memfasilitasi pengembangan dari sisi manufaktur dan pengujian.
“Kami merasa terhormat dapat bekerja sama dengan PTDI dalam mengembangkan teknologi yang dapat mengubah cara kita bertransportasi,” tandasnya.
Baca Juga:Berkedok Lapangan Futsal, Markas Judi Kasino di Bandung Digerebek PolisiTragis! Bayi Ditinggal di Bawah Pohon Jengkol Selama 2 Hari, Meninggal di RSUD Ciamis
Diketahui, kedua pihak menargetkan pengujian awal prototipe taksi udara dapat dilakukan dalam dua tahun ke depan. Jika berjalan lancar, Bandung berpotensi menjadi kota awal uji coba teknologi mobilitas udara masa depan di Indonesia.
Adapun Intercrus Sola, pesawat eVTOL generasi berikutnya yang dikembangkan, lahir untuk mendukung mobilitas udara perkotaan. Kendaraan ini merupakan hasil desain ulang dari UAV militer, yang sebelumnya digunakan untuk membawa peralatan canggih ke medan perang.
Intercrus Sola tidak memerlukan landasan pacu dan dapat diluncurkan dari kapal, pangkalan terpencil, atau medan yang kasar. UAV ini mampu mengangkut muatan maksimum 360 kilogram dengan jarak maksimum 100 kilometer dan kecepatan jelajah 150 kilometer per jam.
