JABAR EKSPRES – Ratusan warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung menghidupkan kembali legenda Ciung Wanara melalui pementasan Opera Kolosal bertajuk “Ciung Wanara: Takdir yang Kembali” di Jalan Pacuan Kuda No. 3, Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, Jumat (17/7/2026).
Di balik megahnya pertunjukan, tersimpan misi yang lebih besar. Pementasan ini merupakan bagian dari program pembinaan berbasis kebudayaan bagi warga binaan, sekaligus menjadi upaya mencetak Rekor MURI melalui kolaborasi drama kolosal terbesar yang melibatkan warga binaan pemasyarakatan di Indonesia.
Di balik tembok lembaga pemasyarakatan yang selama ini identik dengan proses menjalani hukuman, ratusan warga binaan justru menunjukkan sisi lain. Selama kurang lebih tiga bulan, mereka berlatih menghafal dialog, mendalami karakter, menyiapkan kostum, hingga mempelajari koreografi bersama petugas pemasyarakatan, seniman, dan budayawan.
Baca Juga:Merawat Sejarah Mengenang Legenda: AZA Rilis Persebaya Pre Season Jersey 2026 Berkonsep Tribute to Eri IriantoCegah Tragedi Terulang, Polres Tasikmalaya Perketat Ramp Check Angkutan Umum dan Barang
Total sebanyak 407 peserta terlibat dalam pementasan tersebut, terdiri atas warga binaan perempuan, petugas pemasyarakatan, seniman, serta budayawan.
Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Brigjen Pol. Drs. Mashudi mengatakan opera kolosal tersebut merupakan implementasi nyata program pembinaan yang dijalankan di lingkungan pemasyarakatan.
“Pada kesempatan ini Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung untuk wilayah Jawa Barat telah melaksanakan kegiatan salah satu kesenian kolosal yang diikuti oleh semua warga binaan,” ujar Mashudi kepada awak media di lokasi.
Menurutnya, pembinaan melalui seni menjadi salah satu program yang terus didorong di seluruh satuan kerja pemasyarakatan di Indonesia.
“Ini salah satu program pembinaan daripada pemasyarakatan. Oleh karena itu, pada kesempatan malam hari ini, untuk seluruh semua lapas-lapas, pokoknya semua ada kegiatan sama,” katanya.
Mashudi menilai berbagai kegiatan kreatif tersebut menjadi bentuk pembinaan yang memperlihatkan wajah pemasyarakatan yang lebih humanis. Melalui aktivitas positif, warga binaan diberi ruang untuk mengembangkan kemampuan sekaligus mempersiapkan diri sebelum kembali ke tengah masyarakat.
“Namun semuanya salah satu terobosan pembinaan untuk warga binaan, sehingga ada memperlihatkan bahwa di dalam pemasyarakatan itu selalu humanis, memberikan pelayanan yang baik. Ada kegiatan-kegiatan yang menjadikan kita semuanya menjadikan akan lebih baik ke depannya,” ujarnya.
