Intinya, lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan kepribadian dan perilaku seseorang. Jika masih ragu, cobalah lihat lingkaran pertemanan kita saat ini—apakah sifat dan kebiasaan kita semakin menyerupai mereka?
Selain pengaruh dari pengasuhan dan media sosial, kita juga tak bisa mengabaikan meningkatnya jumlah influencer berperilaku boti yang populer di TikTok atau Instagram. Mereka sering tampil dengan gaya bicara yang ramai, ekspresif, dan penuh energi. Tidak jarang, video mereka menjadi viral dan ditonton oleh jutaan orang. Fenomena ini juga tidak terlepas dari konsep mirror neuron, yaitu sistem saraf di otak manusia yang membuat kita secara otomatis meniru perilaku yang sering kita lihat.
Mirror neuron atau neuron cermin adalah sel-sel otak yang akan aktif saat kita melakukan suatu tindakan maupun saat kita melihat orang lain melakukan tindakan yang sama. Dengan kata lain, ketika kita menonton seseorang melakukan suatu hal, otak kita merespons seolah-olah kitalah yang sedang melakukannya.
Baca Juga:Simpan Dulu! 5 Koin Kuno yang Dicari Kolektor Ini Bisa Jadi Investasi MenguntungkanMengulas Lengkap Suzuki Fronx Hatchback Rasa SUV yang Siap Guncang Pasar Indonesia
Artinya, jika seseorang terus-menerus terpapar konten tertentu, otak bisa mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar—bahkan bisa jadi menarik. Hal ini bukan berarti semua orang yang menonton konten semacam itu akan langsung berubah perilakunya. Namun, bagi individu yang kepribadiannya masih dalam proses pembentukan, seperti remaja atau anak-anak, mereka cenderung lebih mudah terpengaruh.
Perlu diketahui juga, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa influencer di media sosial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku dan gaya hidup para pengikutnya. Gaya hidup yang dipopulerkan oleh para influencer tersebut dapat membentuk pola pikir dan cara hidup masyarakat, terutama jika kontennya dikemas dengan menarik dan konsisten muncul di beranda pengguna. Maka tak heran jika semakin banyak orang mulai meniru apa yang mereka lihat di media sosial.
Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh media sosial dan bagaimana cara kerja otak manusia dalam meniru perilaku yang sering ia lihat.
Lalu muncul pertanyaan: apakah fenomena ini dapat “menular”? Jika yang dimaksud adalah penularan secara biologis, seperti flu atau penyakit fisik lainnya, tentu tidak. Namun, jika yang dimaksud adalah penularan secara psikologis atau sosial, maka jawabannya adalah: ada kemungkinan.
