Jika kita menelaah kembali poin-poin yang telah dibahas sebelumnya—seperti pengaruh lingkungan pergaulan, pola pengasuhan (parenting), serta paparan konten tertentu—maka dapat disimpulkan bahwa fenomena ini memang mungkin menular secara psikologis. Misalnya, ketika seseorang berada dalam kelompok pertemanan yang mayoritasnya menunjukkan perilaku tertentu, besar kemungkinan orang tersebut akan menyesuaikan diri secara tidak sadar.
Namun tentu saja, hal ini tidak berlaku untuk semua orang. Banyak juga individu yang tetap mempertahankan perilaku dan identitas maskulinnya meskipun berada di lingkungan yang berbeda.
Perlu diingat, penyebab terjadinya perubahan perilaku semacam ini sangat beragam. Selain pengaruh sosial dan media, ada pula faktor-faktor lain seperti hormon, pengalaman trauma, hingga kebutuhan untuk melampiaskan emosi tertentu.
