Menyikapi Fenomena ‘Boti’ di Media Sosial, Laki-Laki Maskulin Bisa Berubah Feminin

Menyikapi Fenomena ‘Boti’ di Media Sosial
0 Komentar

Hal ini dapat dijelaskan melalui Teori Pembelajaran Sosial dari Albert Bandura, seorang psikolog asal Kanada-Amerika. Teori ini menyatakan bahwa manusia, khususnya anak-anak, belajar melalui pengamatan, peniruan (imitasi), dan pembentukan perilaku melalui model orang lain di sekitarnya.

Secara sederhana, penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak cenderung meniru kebiasaan orang-orang yang mereka lihat setiap hari. Jadi, apabila sejak kecil seorang anak laki-laki terbiasa melihat gerakan yang lembut atau mendengar nada bicara yang halus dari perempuan, maka perilaku tersebut bisa saja terbawa hingga ia dewasa.

Namun tentu saja, pengaruh lingkungan keluarga bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan perilaku gemulai pada laki-laki. Dan bukan berarti laki-laki harus berbicara dengan nada keras atau membentak. Yang lebih penting adalah bagaimana penerapan ekspresi diri yang tetap alami dan tidak dibuat-buat.

Baca Juga:Simpan Dulu! 5 Koin Kuno yang Dicari Kolektor Ini Bisa Jadi Investasi MenguntungkanMengulas Lengkap Suzuki Fronx Hatchback Rasa SUV yang Siap Guncang Pasar Indonesia

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa pola asuh orang tua sangat berpengaruh dalam perkembangan kepribadian anak. Misalnya, pola asuh demokratis—yaitu pola pengasuhan yang memberikan pilihan dan ruang eksplorasi pada anak—cenderung menghasilkan perilaku sosial yang positif. Meski begitu, jika seorang anak laki-laki dibesarkan di lingkungan yang didominasi oleh perempuan sejak kecil, hal ini tetap bisa memberi pengaruh terhadap pembentukan karakternya.

Namun, kurangnya kualitas pengasuhan hanyalah salah satu dari banyak faktor. Faktor lain yang tak kalah besar adalah lingkungan pertemanan. Ada pepatah yang mengatakan bahwa kita adalah rata-rata dari lima orang terdekat kita. Ternyata, pepatah ini juga didukung oleh ilmu psikologi. Kebiasaan, gaya bicara, bahkan cara bergerak seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkaran sosial terdekat mereka.

Itulah sebabnya mengapa semakin banyak perdebatan di kolom komentar, maka semakin sering pula konten-konten serupa muncul di For You Page (FYP) TikTok dan dianggap sebagai tren—atau bahkan memiliki maksud tertentu. Pertanyaannya sekarang: apakah ini sekadar tren biasa, atau ada sesuatu yang lebih besar di baliknya?

Menyikapi Fenomena Boti di Media Sosial

Ada teori yang menyebut bahwa TikTok sengaja mendorong konten bertema boti untuk menunjukkan bahwa mereka adalah platform yang inklusif. Ada pula yang menganggap hal ini hanya strategi agar tingkat engagement meningkat. Di sisi lain, kita juga tidak bisa mengabaikan bahwa dunia saat ini memang semakin terbuka terhadap keberagaman sosial. Maka, bisa saja ini merupakan dampak dari perubahan sosial yang memang sedang berlangsung.

0 Komentar