Menyikapi Fenomena ‘Boti’ di Media Sosial, Laki-Laki Maskulin Bisa Berubah Feminin

Menyikapi Fenomena ‘Boti’ di Media Sosial
0 Komentar

Coba kita ingat kembali masa sekolah dulu, atau amati teman-teman yang masih bersekolah saat ini. Apakah ada teman yang awalnya terlihat biasa saja, tetapi perlahan berubah setelah mulai sering berkumpul dengan kelompok tertentu? Mengapa hal ini bisa terjadi?

Dalam psikologi, ada istilah yang disebut mirroring atau pencerminan. Istilah ini merujuk pada kecenderungan alami otak manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.

Akibatnya, secara tidak sadar, kita mulai meniru ekspresi wajah, gerakan tubuh, hingga intonasi suara dari orang-orang yang sering kita temui. Proses ini tidak terjadi dalam semalam, melainkan bertahap. Semakin lama kita terpapar, semakin kuat pengaruhnya hingga akhirnya menjadi kebiasaan.

Baca Juga:Simpan Dulu! 5 Koin Kuno yang Dicari Kolektor Ini Bisa Jadi Investasi MenguntungkanMengulas Lengkap Suzuki Fronx Hatchback Rasa SUV yang Siap Guncang Pasar Indonesia

Terlebih jika kelompok pergaulan tersebut mendukung dan menerima perilaku yang cenderung feminin atau kemayu, maka kebiasaan itu akan semakin terbentuk secara konsisten.

Oleh karena itu, kita sebaiknya mulai bersikap bijak agar tidak terpengaruh oleh konten atau lingkungan yang kurang sesuai dengan nilai-nilai yang ingin kita pertahankan.

Salah satu caranya adalah dengan menggunakan media sosial secara bijak—mengurangi konsumsi konten yang bertentangan dengan prinsip atau nilai yang kita junjung. Jika ingin berdiskusi dengan orang yang memiliki pandangan berbeda, lakukan dengan cara yang santun dan tidak memaksakan kehendak.

Ada kekhawatiran bahwa jika orientasi seksual seperti LGBT semakin diterima secara luas dalam norma sosial, maka hal ini dapat memengaruhi pemahaman umum tentang hukum alam dan struktur kehidupan yang selama ini dikenal, yaitu pernikahan antara laki-laki dan perempuan.

Misalnya, jika pernikahan sesama jenis menjadi sesuatu yang umum, maka bisa saja memengaruhi angka kelahiran dan laju pertumbuhan populasi. Konsep keluarga tradisional yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak pun dapat mengalami pergeseran. Banyak yang mengkhawatirkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga sesama jenis bisa mengalami kebingungan identitas atau kesulitan memahami peran gender secara konvensional.

Karena itu, penting bagi kita untuk tidak membiasakan diri menganggap fenomena semacam ini sebagai sesuatu yang wajar hanya karena dianggap sebagai hiburan atau tren semata. Jangan sampai kita menormalkan sesuatu yang sebetulnya keliru.

0 Komentar