Menurut Yunandar empat aspek mulai dari attraction, amenities, accessibility, hingga ancillary perlu dibenahi. Misalnya dari aspek aksestabilitas, sarana transportasi publik yang menuju ke kawasan itu belum ada. Selama ini wisatawan mengandalkan kendaraan pribadi.
Akses jalan ke lokasi tidak terlalu lebar. “Angkot saja belum ada. Lalu jalan. Sebenarnya tidak perlu lebar juga tapi di sepanjang jalan perlu ditata agar nampak wisatanya. Selama ini pembangunan masih fokus di dalam kawasan,” tuturnya.
Bagi Yunandar, pembangunan aksestabilitas jadi penting jika ingin mengembangkan sektor pariwisata. Berikutnya yang tak kalah pentinga adalah aspek amenities atau fasilitas. Semestinya perjalanan wisata ke Tahura itu sudah bisa diintegrasikan dengan paket-paket wisata. Mulai dari perjalanan dari bandara atau stasiun, hingga hotel atau penginapan. “Pengeluaran wisatawan itukan juga besar dari perjalanan sampai penginapan. Tidak hanya di lokasi wisata. Bahkan promosinya juga kurang. Kalah pamor dengan Kebun Raya Bogor,” cetusnya.
Baca Juga:Pengamat Politik dan Kebijakan Nilai BLT di Masa Kampanye Syarat akan Nilai PolitisPercepat Pembangunan SD Negeri Polisi 1 Bogor, BKAD Proses Penghapusan Aset
Tak kalah penting, Tahura juga perlu banyak melibatkan warga sekitar, UMKM, hingga berbagai komunitas. “Semua itu memant tidak mudah. Butuh SDM yang profesional juga. Ini kami juga sedang terus dorong untuk pembenahan. Harapannya kedepan bisa menjadi salah satu ikon wisata Jabar,” ucapnya.
Dalam pasal 18 huruf (u) juga dipertegas bahwa daerah 10 meter dari batas kawasan Tahura Bandung dilarang membangun bangunan dan melakukan kegiatan mengganggu kawasan. Lalu dalam Peraturan Presiden (Perpres) No 45 tahun 2018 tentang rencana tata ruang perkotaan cekungan Bandung juga menegaskan bahwa Tahura itu masuk sebagai kawasan konservasi.
