Hal itu dibuktikan dengan kedatangan tentara sekutu ke Bandung, baik melalui udara atau darat (kereta api atau konvoi). Melalui operasi udara atau airborne sebanyak 12 kali dilakukan operasi penerjunan dengan menggunakan 4 pesawat selama dua hari dengan titik pendaratan di Bandara Andir yang relatif aman karena pada radius 1 km terdapat penjagaan dari tentara Inggris. Sedangkan melalui jalur darat dengan menggunakan kereta api dan juga konvoi yang terdiri dari batalyon infanteri, artileri, panzer dan angkatan udara yang bertindak sebagai penjaga mereka selama perjalanan dari Jakarta menuju Bandung.
Pada tanggal 21 Desember 1945, datanglah 1 unit tempur pasukan Sabilillah yang berasal dari Ciamis, Jawa Barat untuk bergabung dengan Batalion 1 Divisi Hizbullah pimpinan Husinsyah untuk membantu mereka. Pada saat itu, para pejuang Cibuntu mengumpulkan senjata dari musuh melalui aksi penculikan dan pencurian yang dikomandoi oleh tiga komandan yakni Iji (mantan Heiho); Apin Suhanda (mantan tentara PETA), dan R. Khudari. pada saat itu pasukan Cibuntu hanya memiliki 10 senjata karaben dengan 400 peluru. Sebelum kembali mengambil bandara Andir (sekarang Bandara Husein Sastranegara di Bandung), mereka mengambil alih pangkalan Jepang di jalan Jenderal Sudirman.
Setelah seminggu, mereka menyiapkan serangan di daerah Cibuntu, para pejuang melakukan serangan besar ke markas Jepang. Serangan dimulai dengan tembakan terbuka sebagai tanda. Sebuah senapan mesin yang melakukan penembakan pertama sehingga mereka menyebut diri mereka Onom (hantu), mengakibatkan pasukan Jepang kocar-kacir menyelamatkan diri. Pertempuran itu berjalan sampai pagi dan Jepang masih terus pada posisi bertahan, karena mereka mendapat bantuan dari Cimahi,
Baca Juga:Bahaya Konsumsi Bayam Berlebihan, Salah Satunya Batu GinjalYuk Intip Ekspresi Para Pebalap dan Kru Saat Melihat Aksi Pawang Hujan di MotoGP Mandalika
Untuk menghentikan serangan udara musuh, Batalyon TKR pimpinan Sumarsono di Situ Aksan; Batalyon Hutagalung Batalyon IV di Cijerah; Batalyon Unit I Hizbulloh dari Husinsyah, dan Unit II Hizbulloh pimpinan R. Khaeruman; Unit II Ajengan Usman Damiri, PBRI (Pasukan Banteng Republik Indonesia), Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia), dan yang lainnya sepakat untuk menyerang Bandara Andir.
Pada tanggal 20 Maret 1946, pasukan Hizbulloh yang terdiri atas para santri, ulama dan warga Bandung Kulon mulai melakukan penetrasi di beberapa titik penghadangan konvoy tentara sekutu yang akan menuju ke Bandara Andir. Pada tanggal 22 Maret 1946 para pejuang di Cibuntu mendapatkan perintah dari Komandan Batalyon bahwa pada hari H semua elemen perjuangan harus melakukan penghadangan dan penyerangan terhadap konvoi tentara sekutu yang akan melewati jalan Fokker.
