Sejarah Jalan Nana Rohana dan Holis Kota Bandung

Sejarah Jalan Nana Rohana dan Holis Kota Bandung
0 Komentar

Pusat pendidikan militer Batalion 29 Imam Bonjol bertempat di Bayongbong Selatan, Garut, dengan lama pendidikan selama 3 bulan bagi tiap unit tempur. Pendidikan meliputi penggemblengan fisik, mental dan spiritual yang dilatih oleh para ulama dan kaum nasionalis.

Pada 12 Oktober 1945, sekitar 09:00, Pasukan Sekutu tiba di bawah komandan Brigadir Jenderal Mac Donald dari Divisi Indian 23, dengan menggunakan kereta api di Stasiun kereta api Bandung. Setelah menduduki kota Bandung, AFNEI (Allied Forces in the Netherlands East Indies) dibawah komandan, Jenderal Sir Philip Christison, gagal menepati janji untuk tidak membawa pasukan Belanda ke Bandung.

Kedatangan tentara Sekutu tidak membuat situasi di kota Bandung menjadi aman dan stabil, tetapi membuat situasi bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Kedatangan mereka di Bandung disambut dengan beberapa insiden dan pertempuran yang dikobarkan oleh para pemuda dari berbagai organisasi perjuangan.Semakin hari terjadi pertikaian antara para pejuang dengan tentara sekutu.

Baca Juga:Bahaya Konsumsi Bayam Berlebihan, Salah Satunya Batu GinjalYuk Intip Ekspresi Para Pebalap dan Kru Saat Melihat Aksi Pawang Hujan di MotoGP Mandalika

Rasa benci dan dendam tidak akan mudah dilupakan . Setiap hari, selalu ada insiden perkelahian sampai pertempuran antara Indonesia dan Belanda / Sekutu . Orang Belanda menjadi lebih sombong. Tindakan provokasi dilakukan tentara sekutu, mereka mencuri, menculik, dan menyiksa masyarakat Indonesia.

Tentara Inggris juga bertingkah seperti tuan tanah, malahan bertingkah semakin brutal. Dengan berbagai alasan mereka menangkapi orang-orang yang dianggap ekstrimis yang dituduh mencuri persenjataan tentara Jepang. Tentara Inggris menjadi semakin menggila, mereka membunuh dan memperkosa kaum wanita yang mereka tangkap dan juga mencuri hartanya.

Battle of Fokkerweg

Jalur diplomasi dan menyerang adalah strategi yang dijalankan oleh tentara Sekutu dalam rangka merebut kembali Indonesia ke pangkuan Belanda. Tentara Sekutu menyerang ketika mereka kuat, dan mundur untuk bernegosiasi ketika mereka lemah. Strategi ini membuat para pejuang Jawa Barat kehilangan harapan. Karena, dengan menggunakan jalur diplomasi, tentara sekutu dapat mengembalikan kekuatan mereka atau bahkan merebut kembali posisi strategis yang dikuasai para pejuang.

Setelah Bandung dibagi menjadi dua daerah, tentara sekutu sering tidak mentaati “Garis Demarkasi”. Akibatnya, di depan Bandung Timur atau Front of Western Bandung sekitar jalur kereta api selalu terjadi pertempuran. Pada pertempuran tersebut, tentara  sekutu selalu kalah. Oleh karena itu, tentara sekutu menjadi kehilangan kekuasaan dan mereka mencoba untuk memperkuat kembali.

0 Komentar