Para Penyair yang Terus Menggelorakan Gerakan Perang Melawan Korupsi

Puisi Menolak Korupsi
AGUS DWI PRASETYO/JAWA POS
KELILING: Gusjur Mahesa berfoto bersama dengan Lurah Tamansari, Kota Bandung, Deni Sirajudin saat kampanye antikorupsi menggunakan puisi.
0 Komentar

Road show tidak hanya di lapangan umum, tapi juga di kompleks sekolah, pesantren, kampus, kantor pemerintah, mal, dan stasiun televisi. Bahkan, Leak cs pernah tampil di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Selain road show, Leak mengadakan Konferensi Nasional (Konnas) Gerakan PMK di Semarang, 6-7 Agustus lalu. Semua biaya ditanggung panitia. Tidak ada sumbangan dari pemerintah. Leak sangat menjaga intervensi dari pihak lain. Karena itu, dia beberapa kali menolak sumbangan karena khawatir sumbangan itu memiliki pamrih.

”Kalau pas road show ada penonton yang menyumbang, kami umumkan secara terbuka, termasuk untuk apa uang itu nanti. Inilah pendidikan antikorupsi. Kami menjaga transparansi, keterbukaan kepada semua pihak,” beber pria kelahiran 23 September 1967 itu.

Baca Juga:Kelas MI di Tasikmalaya Mirip Kandang AyamSambut Kontingen PON, Bandara Husein Sastraneegara Berikan Pintu Khusus

Setali tiga uang, penyair dan teaterawan Gusjur Mahesa juga gusar akan maraknya pungutan liar (pungli) dan suap di pemerintahan. Gusjur pun berkampanye dengan berkeliling kantor-kantor pemerintahan sambil membacakan puisi-puisi antikorupsinya. Dalam setiap aksinya, Gusjur selalu memberikan kejutan bagi audiens. Salah satunya, mengeluarkan golok saat membacakan puisi.

Deni Sirajudin, lurah Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, pun dibuat kaget ketika Gusjur tiba-tiba saja mengeluarkan golok dari tas. Senjata itu ditodongkan ke arah Deni yang sedang asyik ngobrol dengan tiga warga di sebuah warung yang tak jauh dari kantor kelurahan. Acara cangkruk ngalor-ngidul itu pun seketika bubar.

Melihat warga beranjak, Gusjur langsung duduk di depan pak lurah. Wajah pak lurah pun makin tampak bingung. Dipelototinya si Gusjur dari ujung sepatu sampai ujung kepala. Dia merasa aneh dengan penampilan ala laskar Gusjur itu.

Gusjur memang mengenakan jaket lusuh yang dipenuhi emblem bordir di setiap sudut. Kepalanya memakai peci hitam polos. Dia juga menggunakan bot kulit cokelat dengan bagian atas dan lidah sepatu dikeluarkan sehingga menutupi sisi dasar celana kain yang dikenakan. ”Anda ini siapa?” tanya Deni, penasaran.

Saat melihat ekspresi pak lurah yang kurang nyaman, Gusjur yang masih memegang golok segera mengajak bersalaman, lalu memperkenalkan diri. ”Saya seniman, Pak, mau kampanye antikorupsi. Ini hanya bedog (golok, Red) kayu properti saja,” ujar Gusjur sambil mengetokkan golok ke meja di depannya untuk memastikan golok tersebut terbuat dari kayu.

0 Komentar