Diskusi itu berlanjut ke pembacaan puisi karangannya sendiri. Murid penyair legendaris W.S. Rendra tersebut selalu membawa buku antologi puisi miliknya yang berjudul Mending Gelo daripada Korupsi (Lebih Baik Gila daripada Korupsi). Puisi-puisi dalam buku itulah yang dia bacakan di hadapan pejabat kelurahan.
Mayoritas merupakan puisi berdiksi gamblang yang bertema kehidupan sosial. Pada sesi itu, Gusjur menggunakan golok kayu sebagai properti untuk aksi baca puisi tersebut. ”Kalau sambutannya dingin, saya balik kanan (pulang, Red),” ujar pria yang tinggal di Cihanjuang, Parongpong, Bandung Barat, tersebut. (*/11/ari/rie)
