Leak menceritakan, pada awalnya dirinya bingung bagaimana caranya bisa mengumpulkan puisi sebanyak itu dan membukukannya. Maka, dia memulainya lewat jalur media sosial (medsos). Satu per satu puisi antikorupsi dia kumpulkan lewat akun Facebook-nya. Setelah itu, pada awal 2013, seorang penyair dari Semarang, Heru Mugiarso, membantunya mewujudkan keinginan Leak menerbitkan buku antologi puisi melawan korupsi.
”Saya minta bantuan Heru untuk mengajak urunan teman-teman penyair guna menerbitkan antologi itu,” jelasnya.
Heru sukses mengajak lima penyair Semarang untuk patungan membiayai penerbitan buku tersebut. ”Bayangkan, sudah repot-repot nulis (puisi), terus mau iuran lagi. Ini kan luar biasa,” terang penyair yang pernah diundang membaca puisi di Jerman, Belanda, Belgia, Korea, dan beberapa negara lainnya itu.
Baca Juga:Kelas MI di Tasikmalaya Mirip Kandang AyamSambut Kontingen PON, Bandara Husein Sastraneegara Berikan Pintu Khusus
Setelah itu, jalan seperti terbuka lebar. Sambutan para penyair dari berbagai daerah sangat positif. Dalam waktu sebulan, sekitar 100 orang mengirim puisi lewat e-mail. Mereka juga mau urunan uang, khususnya yang puisinya masuk seleksi. Rata-rata mengirim Rp 250 ribu. Tapi, ada juga yang menyumbang Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Dari 85 penyair yang karyanya masuk antologi PMK 1 itu, terkumpullah uang sekitar Rp 20 juta.
Setelah itu, kesibukan Leak bertambah. Dia mesti melakukan proses editing, menatanya, lalu membawanya ke percetakan. Buku edisi perdana tersebut dicetak 1.000 eksemplar. ”Setiap penyair mendapatkan jumlah buku sesuai uang yang mereka berikan,” jelasnya.
Sebagai bagian dari kampanye antikorupsi, Leak juga membagikan buku PMK 1 itu ke sekolah-sekolah, perpustakaan daerah, hingga kepada bupati-wali kota dan gubernur. ”Bagi sekolah untuk bahan pengajaran, bagi para pejabat untuk mengingatkan agar mereka tidak berbuat (korupsi).”
Sejak itu, gerakan penyair melawan korupsi semakin menggurita. Jumlah penyair yang terlibat dan puisi yang dikirimkan kepada Leak terus bertambah. Maka, buku kedua dan ketiga pun terbit dengan mudah. Semua dibiayai para penyair.
Aktivitas Leak mengampanyekan gerakannya tidak sampai di penerbitan buku. Dia bersama teman-temannya juga mulai keliling ke daerah-daerah. Hingga kini sudah 40 daerah dia datangi sambil membacakan puisi. Yang mengesankan saat road show di Amuntai, Kalimantan Selatan. Masyarakat tumplek bleg bak nonton konser dangdut. Para pejabat juga hadir. ”Padahal, acaranya di pinggir sungai,” cerita dia.
