Dosen POLSUB Bawa PROTEKSI ke Pesantren, Deteksi Dini Kesehatan Jiwa Santri Berbasis Website

Persoalan kesehatan jiwa santri kerap tak terlihat. Di balik aktivitas belajar, mengaji, dan kehidupan berasra
Persoalan kesehatan jiwa santri kerap tak terlihat. Di balik aktivitas belajar, mengaji, dan kehidupan berasrama, sebagian santri memilih menyimpan sendiri persoalan yang dihadapi
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Persoalan kesehatan jiwa santri kerap tak terlihat. Di balik aktivitas belajar, mengaji, dan kehidupan berasrama, sebagian santri memilih menyimpan sendiri persoalan yang dihadapi. Mulai masalah pribadi, keluarga, ekonomi, hingga rasa rindu terhadap rumah atau homesick.

Kondisi itu menjadi perhatian Politeknik Negeri Subang (POLSUB). Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), dosen Jurusan Kesehatan dan TIK membawa pendekatan berbasis teknologi ke Pondok Pesantren Madaarikul Ulum, Kabupaten Garut.

Bukan sekadar memberikan penyuluhan, POLSUB mengembangkan PROTEKSI, aplikasi berbasis website yang dirancang sebagai sarana skrining dan pemantauan awal kesehatan jiwa santri.

Baca Juga:Kemarau Belum Usai, Tagana Terus Pasok Air Bersih untuk Warga TasikmalayaLeuwikeris Disiapkan Jadi Destinasi Agrowisata, Infrastruktur Didorong Beri Nilai Tambah Ekonomi

Program bertajuk “Penguatan Kesehatan Jiwa Santri melalui Aplikasi PROTEKSI Berbasis Website Mendukung Pesantren Sehat dan Inklusif” tersebut didukung dan didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Tim PkM terdiri atas Habsyah Saparidah Agustina, S.Kep., Ners., M.Kep. sebagai ketua, Annisa Mazda Firdaus, S.Kep., Ners., M.Kep. dan Taufan Abdurrachman, ST., M.Kom. sebagai anggota.

Ketua tim, Habsyah Saparidah Agustina, mengatakan program tersebut berangkat dari kebutuhan akan sistem deteksi dini kesehatan jiwa yang terstruktur dan mudah digunakan di lingkungan pesantren.

Selama ini, keterbatasan akses terhadap layanan konseling profesional serta belum optimalnya sistem pemantauan membuat persoalan psikologis santri berpotensi tidak teridentifikasi sejak awal.

“Solusi yang kami tawarkan adalah penerapan aplikasi PROTEKSI yang memungkinkan santri melakukan skrining kesehatan jiwa secara mandiri dan aman. Hasilnya kemudian dapat menjadi informasi bagi guru pengajar melalui dashboard untuk pemantauan lebih lanjut,” ujar Habsyah.

Tidak hanya mengandalkan teknologi, POLSUB juga memasukkan unsur spiritual dalam program tersebut. Edukasi kesehatan jiwa dikembangkan melalui media video animasi 3D berbasis spiritual yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan pesantren.

Persoalan kesehatan jiwa di lingkungan pesantren tidak selalu mudah dikenali. Hal itu terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) yang dilakukan tim POLSUB bersama pihak pesantren, guru bimbingan konseling (BK), serta tenaga kesehatan atau puskesmas.

Baca Juga:Dua Hari Berturut-turut, Api Sambar Rumah Warga dan Lahan Sampah di TasikmalayaHari Jadi Ke-81 Jateng: Dari Sawah Jawa Tengah untuk Meja Makan Indonesia

Dosen POLSUB, Annisa Mazda Firdaus, mengatakan sebagian santri cenderung menutupi persoalan yang sedang dihadapi. Masalah tersebut beragam, mulai persoalan pribadi dan keluarga hingga kondisi ekonomi.

0 Komentar