“Penguatan dilakukan melalui pelatihan, penerapan, dan pemanfaatan aplikasi PROTEKSI serta psikoedukasi berbasis spiritual melalui video animasi 3D,” tambah Taufan.
Bagi Dosen POLSUB, program tersebut tidak berhenti pada pembuatan sebuah aplikasi. Habsyah menjelaskan pelaksanaan PkM dilakukan secara bertahap, mulai perancangan kegiatan, analisis kebutuhan mitra, sosialisasi, pengembangan aplikasi, pelatihan, penerapan, pendampingan, hingga evaluasi.
Mitra juga dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga evaluasi. Pola tersebut dipilih agar teknologi yang dikembangkan benar-benar sesuai kebutuhan pesantren dan dapat digunakan secara berkelanjutan.
Baca Juga:Kemarau Belum Usai, Tagana Terus Pasok Air Bersih untuk Warga TasikmalayaLeuwikeris Disiapkan Jadi Destinasi Agrowisata, Infrastruktur Didorong Beri Nilai Tambah Ekonomi
“Kami memiliki target luaran berupa pengembangan dan penerapan aplikasi PROTEKSI, peningkatan kapasitas pengajar dalam menggunakan aplikasi, serta peningkatan kesehatan jiwa santri melalui deteksi dini dan psikoedukasi,” kata Habsyah.
Dalam proses sosialisasi, mahasiswa POLSUB juga dilibatkan. Mereka turut membantu pelaksanaan kegiatan dan berdiskusi dengan kelompok pengajar serta pengelola pesantren untuk memetakan kebutuhan yang paling mendesak.
Dengan cara tersebut, program PkM diharapkan tidak menjadi kegiatan satu kali, tetapi dapat memberikan manfaat yang terus berjalan di lingkungan pesantren.
Pimpinan Pondok Pesantren Madaarikul Ulum, K.H. Entep Achmad Zahid, mengapresiasi program yang dibawa dosen dan mahasiswa POLSUB.
Pesantren yang berlokasi di Kampung Tanjung, Selaawi, Kabupaten Garut, tersebut berharap aplikasi deteksi dini kesehatan jiwa dan video animasi 3D berbasis spiritual dapat menjadi pendukung dalam proses pembinaan santri.
Menurutnya, pemantauan kondisi santri tidak hanya penting dalam aspek akademik. Kondisi jiwa, emosional, dan spiritual juga menjadi bagian dari proses pendidikan di lingkungan pesantren.
“Kami berharap aplikasi ini dapat mendukung evaluasi nonakademik dan pembinaan bagi santri. Semoga dapat mendukung terciptanya lingkungan pesantren yang sehat secara jiwa, emosional, dan spiritual,” ujar K.H. Entep Achmad Zahid.
Baca Juga:Dua Hari Berturut-turut, Api Sambar Rumah Warga dan Lahan Sampah di TasikmalayaHari Jadi Ke-81 Jateng: Dari Sawah Jawa Tengah untuk Meja Makan Indonesia
Melalui program tersebut, POLSUB menargetkan peningkatan literasi kesehatan jiwa di kalangan santri. Pada saat yang sama, program diharapkan dapat membantu mengurangi stigma terhadap persoalan psikologis serta memperkuat peran guru dalam memberikan pendampingan secara preventif.
Bagi Habsyah dan tim, penguatan kesehatan jiwa merupakan bagian penting dari upaya membangun lingkungan pendidikan yang sehat.
