Dosen POLSUB Bawa PROTEKSI ke Pesantren, Deteksi Dini Kesehatan Jiwa Santri Berbasis Website

Persoalan kesehatan jiwa santri kerap tak terlihat. Di balik aktivitas belajar, mengaji, dan kehidupan berasra
Persoalan kesehatan jiwa santri kerap tak terlihat. Di balik aktivitas belajar, mengaji, dan kehidupan berasrama, sebagian santri memilih menyimpan sendiri persoalan yang dihadapi
0 Komentar

Rasa rindu terhadap rumah juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan, terutama bagi santri yang harus tinggal jauh dari keluarga.

“Kami melihat keterbatasan media untuk mengetahui kondisi kesehatan mental menjadi salah satu kendala dalam melakukan deteksi dan penanganan dini,” kata Annisa.

Karena itu, pihak pesantren, sekolah, dan puskesmas menyambut baik pengembangan PROTEKSI sebagai sarana pendukung deteksi dini dan pemantauan kesehatan jiwa santri.

Baca Juga:Kemarau Belum Usai, Tagana Terus Pasok Air Bersih untuk Warga TasikmalayaLeuwikeris Disiapkan Jadi Destinasi Agrowisata, Infrastruktur Didorong Beri Nilai Tambah Ekonomi

Aplikasi tersebut dirancang dengan sejumlah fitur. Di antaranya pengukuran kondisi mental, informasi terkait permasalahan yang dihadapi, serta arahan untuk mendapatkan bantuan atau konsultasi.

Namun, Annisa menekankan bahwa teknologi bukan pengganti peran tenaga profesional. “Diperlukan kolaborasi antara pesantren, guru BK, orang tua, puskesmas, dan pihak terkait. Selain itu, aplikasinya harus sederhana dan mudah diakses sehingga dapat mendukung terwujudnya pesantren yang sehat dan inklusif,” ujarnya.

PROTEKSI Pantau Kondisi Santri

Pengembangan PROTEKSI dilakukan dengan melibatkan para pemangku kepentingan di lingkungan Pondok Pesantren Madaarikul Ulum. Tim Dosen POLSUB mengintegrasikan instrumen skrining MMYS V.1 dan SRQ-29 ke dalam aplikasi. Sistem tersebut dilengkapi fitur skrining kesehatan jiwa santri dan dashboard pemantauan bagi guru.

Selain itu, terdapat fitur perbandingan data awal dan akhir semester. Data tersebut diharapkan dapat membantu pihak pesantren melihat perkembangan kondisi santri dari waktu ke waktu.

Anggota tim PkM, Taufan Abdurrachman, mengatakan proses pengembangan juga disertai sosialisasi dan uji coba aplikasi kepada tenaga pengajar dan siswa.

“Kami melakukan sosialisasi dan uji coba aplikasi PROTEKSI berbasis website serta video animasi 3D berbasis spiritual kepada tenaga pengajar dan siswa di pondok pesantren,” jelas Taufan.

Pelatihan kemudian diberikan kepada pimpinan pondok pesantren, tenaga pengajar, guru BK, dan wali kelas. Mereka tidak hanya diperkenalkan dengan cara menggunakan aplikasi, tetapi juga diarahkan memahami pemanfaatannya dalam pemantauan kondisi santri.

Baca Juga:Dua Hari Berturut-turut, Api Sambar Rumah Warga dan Lahan Sampah di TasikmalayaHari Jadi Ke-81 Jateng: Dari Sawah Jawa Tengah untuk Meja Makan Indonesia

Pelatihan dan penerapan program juga diberikan kepada wali kelas dan para santri yang bersekolah di SMP Plus Madaarikul Ulum dan SMA Nanjung Harapan.

0 Komentar