“Harapannya, program ini dapat berkontribusi pada peningkatan literasi kesehatan jiwa, pengurangan stigma terhadap masalah psikologis, dan penguatan peran guru dalam mendampingi santri secara preventif,” katanya.
Program tersebut juga diarahkan untuk mendukung pencapaian sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan, antara lain SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan turut mendukung Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045 serta pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi.
Bagi Dosen POLSUB, teknologi dalam program ini hanyalah salah satu instrumen. Tujuan akhirnya adalah membangun sistem pendampingan yang lebih peka terhadap kondisi santri.
Baca Juga:Kemarau Belum Usai, Tagana Terus Pasok Air Bersih untuk Warga TasikmalayaLeuwikeris Disiapkan Jadi Destinasi Agrowisata, Infrastruktur Didorong Beri Nilai Tambah Ekonomi
Ketika persoalan yang selama ini disimpan sendiri mulai bisa dikenali lebih awal, pesantren memiliki peluang lebih besar untuk memberikan pendampingan yang tepat. Dari sanalah lingkungan belajar yang sehat, aman, dan inklusif diharapkan tumbuh.
Tim PkM POLSUB menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) POLSUB serta DPPM Kemdiktisaintek atas dukungan yang diberikan sehingga program dapat terlaksana dan diharapkan memberikan manfaat berkelanjutan bagi Pondok Pesantren Madaarikul Ulum.
