Setibanya di Kampus, iapun percaya diri memarkir armada birunya di barisan mobil-mobil berplat hitam maupun merah. Dengan sigap ia bukakan pintu untuk penumpang istimewa. Yakni sang anak yang sudah bersiap dengan toganya. Adi juga bangga bisa mengiringi dengan seragam birunya. “Gak nyangka, saya sopir tapi dua anak saya bisa lulus sarjana,” katanya.
Cerita yang Tertinggal di Kursi Belakang
Namun jangan salah, jalan yang ditempuh Adi untuk sampai ke titik itu tidak selalu mulus. Di balik angka argometer, tersimpan kisah yang tak pernah tercatat.
Adi menceritakan, beberapa kali konsumen yang diantarkannya kabur tanpa membayar. Setidaknya ia pernah tiga kali mengalami hal tersebut. “Ada yang alasan tidak punya uang, ada yang langsung kabur saat macet,” ucapnya.
Baca Juga:Kapolres Tasikmalaya Ikuti Patroli Malam, Sasar Titik Keramaian dan Rawan C3Kemarau Makin Parah, Petugas Gabungan Salurkan 11.500 Liter Air Bersih di Desa Tanjungjaya
Sekali, Adi juga pulang dengan mata kiri lebam setelah kena pukul geng motor. Saat itu situasi sedang macet. Ia diminta buka kaca dan tiba-tiba saja dilempar bogem. “Mungkin dikira provokasi. Tapi ya harus sabar. Itu risiko hidup di jalan,” curhatnya.
Selain itu, kursi belakang Adi juga menyimpan kisah dan pengakuan. Setiap hari ia membawa orang ke alamat yang berbeda. Selama 15 tahun, ia juga mengangkut cerita-cerita yang tidak pernah masuk ke alamat tujuan.
Adi menceritakan, Suatu hari ia datang menjemput penumpang di sebuah perumahan. Setibanya di parkiran, seorang perempuan muda masuk sambil menangis. Dan bayi mungil berada dalam gendongannya. “Bayinya masih merah, minta dianter ke travel,” tuturnya.
Suasana makin tegang karena ada laki-laki yang kemudian hendak menghentikan taksinya berangkat. Ia adalah suami perempuan itu. Menurut Adi pasutri itu tengah bertengkar dan sang istri ingin pergi.
“Pak, ibu ini posisinya masih syok. Dia minta diantar ke travel. Mau ke rumah ibunya di Jakarta. Tenang pak, mari bertemu di travel saja. Biar ibunya tenang dulu,” cetus Adi dengan sedikit terbata berupaya mengingat kata-kata yang dia ucapkan kala itu.
Pria yang pernah punya mimpi menjadi guru itu menuturkan, ia memang tak mau ikut campur masalah keluarga orang. Tapi bagaimanapun juga perempuan itu adalah penumpangnya. Jadi ia ikut bertanggung jawab atas keselamatannya. Karenanya ia berusaha meredam situasi dan mencari jalan tengah dengan mengajak bertemu di lokasi travel saja. “Di travel perempuan itu lebih tenang, karena sudah banyak bercerita selama perjalanan. Merekapun mau bertemu di travel” ungkap Adi.
