Peristiwa tersebut jadi satu dari ribuan kisah dari kursi belakang Adi. Kisah itu akan terus bertambah seiring bertambahnya usia Adi. Setiap hari Adi akan kembali mengenakan seragam birunya. Ia tak pernah tau siapa yang akan membuka pintu taksinya. Mungkin pebisnis yang terburu-buru mengejar jadwal kereta atau anak muda yang sedang jatuh cinta.
Lima belas tahun lalu, Adi nekad ke balik kemudi untuk mencari nafkah. Kini ia masih setia berseragam biru. Dari kemudi yang sama ia menemukan rumah keluarga dan mengantarkan dua anaknya bergelar sarjana. Perjalanan itu mungkin tak tercatat di argometer. Namun bagi Adi, itulah perjalanan pulang yang paling berarti. (son)
