Kekeringan Dominasi Bencana di Tasikmalaya, 42 Ribu Warga Terdampak Sepanjang Agustus

Kekeringan Dominasi Bencana di Tasikmalaya, 42 Ribu Warga Terdampak Sepanjang Agustus
Tampak warga antre air bersih. Foto: Istimewa
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Ancaman bencana di Kabupaten Tasikmalaya sepanjang Agustus 2026 didominasi persoalan kekeringan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya mencatat sedikitnya 38 kejadian/laporan kebencanaan selama periode 1–31 Agustus 2026.

Dari jumlah tersebut, kekeringan menjadi kejadian paling dominan dengan 25 laporan pendistribusian air, disusul kebakaran lahan sebanyak 12 kejadian dan cuaca ekstrem sebanyak 1 kejadian.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Roni AKS, melalui keterangan tertulis, Minggu (6/9/2026), menyampaikan bahwa data tersebut menunjukkan persoalan kekeringan masih menjadi salah satu ancaman serius yang dihadapi masyarakat Kabupaten Tasikmalaya.

Baca Juga:Pamitan Kerjakan Skripsi, Cinta Tak Ada Kabar Hampir SepekanImbangi Perkembangan Digital, Polres Tasikmalaya Bentengi Ribuan Pelajar dengan Pelatihan AI

“Pada bulan Agustus 2026, menunjukkan bahwa kekeringan mendominasi kejadian dengan 66 persen, diikuti kebakaran lahan sebesar 31 persen serta cuaca ekstrem sebesar 3 persen,” demikian keterangan BPBD berdasarkan data Pusdalops PB BPBD Kabupaten Tasikmalaya.

Dampak kekeringan bahkan tercatat cukup luas. BPBD menyebut 13 kecamatan dan 18 desa terdampak, dengan jumlah mencapai 10.209 kepala keluarga atau 42.205 jiwa.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, sepanjang periode tersebut telah dilakukan pendistribusian sekitar 516.000 liter air bersih.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa persoalan kekeringan bukan lagi sekadar kesulitan air pada beberapa titik, tetapi telah menyentuh kebutuhan dasar puluhan ribu warga di berbagai wilayah.

Cipatujah Paling Banyak KejadianSementara itu, dari sisi persebaran wilayah, BPBD mencatat kejadian bencana selama Agustus tersebar di 16 kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya.

Kecamatan Cipatujah menjadi wilayah dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni lima kejadian. Kemudian Kecamatan Bojonggambir dan Mangunreja masing-masing mencatat empat kejadian.

Sejumlah kecamatan lainnya tercatat mengalami antara satu hingga tiga kejadian selama periode tersebut.

Baca Juga:Aktivis Muda KAHMI Hendriyanto Attan Dianugerahi Gelar Kanjeng Raden Haryo dari Keraton SurakartaAZA Hadirkan Persebaya Player Issue Jersey untuk Super League, Material Super Ringan 100 Persen Buatan Indones

BPBD menilai persebaran tersebut menunjukkan bahwa kejadian bencana selama Agustus tidak hanya terkonsentrasi di satu wilayah, meskipun Cipatujah menjadi daerah dengan frekuensi kejadian paling tinggi.

Selain berdampak terhadap masyarakat, bencana selama Agustus juga tercatat memengaruhi sejumlah fasilitas. BPBD mencatat 11 fasilitas terdampak, terdiri dari satu fasilitas sektor perindustrian dan 10 fasilitas pada sektor lingkungan.

Meski demikian, dalam rekapitulasi tersebut tidak terdapat rumah yang mengalami kerusakan, baik rusak berat, sedang maupun ringan. Tidak tercatat pula korban meninggal dunia, hilang, mengungsi maupun luka-luka.

0 Komentar