Lima belas tahun sudah Adi Gunawan merajut asa di balik kemudi Taksi Bluebird. Jalan pulangnya berubah, dari rumah di bantaran sungai menuju rumah tapak perumahan. Termasuk kado dua gelar sarjana anaknya.
Hendrik Muchlison, Jabar Ekspres, Kota Bandung
Jam menunjukkan pukul 11.23 WIB ketika Adi merebahkan kursi pengemudi. Ia mencoba meluruskan punggung untuk mengusir lelah setelah hampir seharian di balik kemudi taksi birunya.
Belum lama beristirahat, kaca mobilnya diketuk aparat berseragam doreng. Ia dibentak dan diminta pindah. Karena lokasi itu bukan tempat parkir umum, serta mengganggu akses masuk markas. Adi pun berusaha tetap ramah menjawab arahan itu, walau sebenarnya gugup. Itu nampak dari cara Adi memegang cukup erat kemudi taksi saat menghadapi perintah aparat tersebut.
Baca Juga:Kapolres Tasikmalaya Ikuti Patroli Malam, Sasar Titik Keramaian dan Rawan C3Kemarau Makin Parah, Petugas Gabungan Salurkan 11.500 Liter Air Bersih di Desa Tanjungjaya
Kemudian pria 56 tahun itu memindahkan taksinya sekitar 100 meter. Adi lalu menghela napas panjang dan menyeruput kopi seduh di gelas plastik yang sisa setengah untuk menenangkan diri. Peristiwa itu satu dari sejumlah risiko yang dihadapi di tengah kerasnya hidup di jalanan. Tetapi di balik kemudi itulah Adi bisa mengubah jalan pulangnya.
Sebelum berseragam biru, Adi sebenarnya sudah mengais rezeki di balik kemudi. Kala itu sebagai sopir pribadi dan sudah menjalani hampir tujuh tahun. Namun pekerjaan itu belum cukup untuk bisa membawa perubahan bagi istri dan dua anaknya.
Keluarga kecil pria kelahiran 1970 itu harus hidup di bantaran sungai. Kalau pulang harus melalui gang sempit dan menurun yang hanya bisa diakses motor. Itupun pengendaranya butuh keberanian yang tinggi karena jalur yang licin.
Rumah Adi juga sederhana, ruang tamunya tak bisa masuk sofa. Ruang itu sudah disekat dengan lemari untuk berbagi kamar dengan anak. Sisanya jadi ruang yang punya dua fungsi, yaitu ruang tamu ketika siang dan tempat tidur saat matahari tenggelam. Saat tidur, rasa khawatir juga terus menghantui. Karena daerah itu termasuk kawasan rawan longsor.
Lalu pada April 2010, Adi dikenalkan dengan perusahaan berlogo burung tersebut. Ia kemudian resmi menjadi driver perusahaan yang didirikan Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono itu. Walaupun sebenarnya ia sempat tak direstui sang istri. “Khawatir nanti main perempuan,” cetusnya saat ditemui Kamis (6/8/2026).
