JABAR EKSPRES – Hamparan timbunan sampah di Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat (KBB), tak hanya menyimpan persoalan kapasitas, tetapi juga ancaman kebakaran saat musim kemarau.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat menyiapkan sejumlah langkah pencegahan di lokasi pembuangan sampah regional itu. Mitigasi dilakukan mulai dari penataan timbunan sampah, penutupan dengan tanah, hingga penguatan sarana pemadaman kebakaran.
Kepala UPTD Pengelolaan Sampah TPA/TPST Regional DLH Provinsi Jawa Barat, Arief Perdana, mengatakan penataan timbunan sampah menjadi salah satu langkah utama yang dilakukan. Selain menambah alat berat, pengelola juga melakukan penutupan timbunan menggunakan tanah untuk mengurangi risiko kebakaran akibat gas metana.
Baca Juga:Bukan Sekadar Sekolah, Institut Alam Rimba Siapkan Generasi Penjaga LingkunganKeluhan Percaloan dan Biaya Tambahan Bayangi Pelayanan SIM, Kinerja Satpas Polrestabes Bandung Jadi Sorotan
“Tahun ini kami sudah mengalokasikan anggaran untuk penutupan timbunan sampah. Penataan dilakukan menggunakan tambahan alat berat agar tumpukan tidak terlalu tinggi dan gas metana yang terbentuk tidak terkonsentrasi di satu titik,” kata Arief saat dikonfirmasi, Jumat (10/7/2026).
Menurutnya, langkah tersebut difokuskan di zona 5 yang saat ini menjadi lokasi utama pembuangan sampah dari kawasan Bandung Raya. Penataan dilakukan agar gas hasil pembusukan sampah organik dapat tersebar lebih merata sehingga potensi terjadinya kebakaran dapat ditekan.
Kewaspadaan itu bukan tanpa alasan. Pada Agustus 2023, TPA Sarimukti sempat dilanda kebakaran besar di zona lama yang sudah tidak lagi aktif. Api saat itu sulit dipadamkan karena menjalar di dalam timbunan sampah yang mengandung gas metana hingga menyebabkan status darurat diberlakukan selama beberapa pekan.
Belajar dari kejadian tersebut, pengelola kini memperkuat sistem penanganan kebakaran dengan menyediakan jaringan hidran, alat pemadam api ringan, serta peralatan pemadam berkapasitas besar di kawasan TPA.
“Sarana pemadaman sudah kami siapkan, mulai dari hidran hingga alat pemadam. Harapannya, jika muncul titik api bisa langsung ditangani sebelum meluas,” ujarnya.
Arief menjelaskan, musim kemarau menjadi periode yang paling rawan karena sampah yang mengering lebih mudah terbakar. Di sisi lain, proses pembusukan sampah organik terus menghasilkan gas metana yang mudah menyala ketika bertemu sumber panas.
