JABAR EKSPRES – Di tengah pemadaman listrik yang melanda sejumlah wilayah di Jawa dan Bali, lampu-lampu di Kampung Tangsijaya, Desa Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB) tetap menyala seperti biasa.
Rahasianya terletak pada pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) yang dibangun dan dikelola sendiri oleh warga. Sistem kelistrikan berbasis tenaga air itu kini menjadi sumber energi utama masyarakat setempat selama bertahun-tahun.
Berbekal aliran Sungai Ciputri yang melintas di kawasan tersebut, masyarakat setempat menciptakan sistem kelistrikan mandiri yang kini mampu memasok kebutuhan listrik bagi 90 rumah dengan kapasitas 30.000 watt.
Baca Juga:Bocah Main Lilin Saat Mati Lampu, 3 Rumah dan 1 Motor Ludes Terbakar di Bojonggede BogorRSUD KHZ Musthafa Ukir Sejarah, Layanan Trombolisis Pertama di Priangan Timur Selamatkan Pasien Stroke Akut
Namun, kemandirian energi itu tidak lahir dalam semalam. Jauh sebelum listrik menjangkau wilayah tersebut, warga Kampung Tangsijaya hidup dengan penerangan seadanya menggunakan lampu tempel berbahan bakar minyak tanah.
Ketua Koperasi Produsen Rimba Lestari (Kopbari) sekaligus pengelola PLTMH, Opan Sopandi, mengenang kondisi kampungnya pada awal 1990-an ketika listrik masih menjadi barang langka.
“Sekitar tahun 1990-an, kami masih pakai lampu tempel dan minyak tanah,” ujar Opan, Sabtu (20/6/2026).
Keterbatasan itu justru melahirkan kreativitas warga. Mereka mulai memanfaatkan derasnya aliran Sungai Ciputri dengan membuat kincir air sederhana dari kayu. Dinamo yang digunakan pun dirakit sendiri menggunakan magnet bekas motor.
Listrik yang dihasilkan memang tidak besar, hanya sekitar 100 hingga 300 watt. Namun daya tersebut sudah cukup untuk menerangi rumah-rumah warga pada malam hari.
“Satu kincir biasanya untuk satu rumah, jadi hampir setiap rumah punya kincir yang dipasang di sungai,” kata Opan.
Keberadaan Sungai Ciputri menjadi modal utama warga untuk menghasilkan listrik secara mandiri. Debit air yang stabil membuat sungai tersebut mampu menjadi sumber energi bagi kampung yang saat itu masih terisolasi dari berbagai fasilitas modern.
Baca Juga:Persebaya Rayakan Hari Jadi ke-99 dengan Semangat 'Persebaya untuk Semua'Genjot Serapan Telur dan Ayam untuk Program MBG, Harga Peternak Mulai Terdongkrak
“Di sini dulu kampung yang jauh dari mana-mana dan sulit dijangkau. Tapi ada Sungai Ciputri yang arusnya selalu deras, sehingga dimanfaatkan untuk menyalakan lampu,” tuturnya.
Perjalanan menuju sistem kelistrikan yang lebih modern dimulai pada 2004. Saat itu, seorang warga dari Cihanjuang melihat potensi aliran sungai di Kampung Tangsijaya dan membantu membangun turbin mikrohidro sederhana berkapasitas 3.000 watt.
