Turbin tersebut menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya listrik dikelola secara terpusat dan mampu melayani sekitar 60 rumah warga.
“Mesin ditempatkan di atas aliran air, konsepnya open flume,” jelas Opan.
Meski hanya bertahan selama dua tahun, pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat. Warga kemudian mengajukan bantuan pembangunan pembangkit yang lebih besar kepada pemerintah.
Baca Juga:Bocah Main Lilin Saat Mati Lampu, 3 Rumah dan 1 Motor Ludes Terbakar di Bojonggede BogorRSUD KHZ Musthafa Ukir Sejarah, Layanan Trombolisis Pertama di Priangan Timur Selamatkan Pasien Stroke Akut
Harapan itu terwujud pada akhir 2007 ketika program PLTMH dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Barat masuk ke Kampung Tangsijaya.
Saat itu dibangun pembangkit berkapasitas 18.000 watt yang mampu melayani sekitar 65 kepala keluarga.
Seiring waktu, kebutuhan listrik terus meningkat. Jumlah penduduk bertambah dan penggunaan perangkat elektronik di rumah-rumah warga semakin banyak.
“Tuntutan kebutuhan listrik semakin besar, belum lagi populasi masyarakat di kampung juga bertambah,” katanya.
Pada 2024, PLTMH Kampung Tangsijaya kembali ditingkatkan melalui bantuan pemerintah pusat. Kapasitas pembangkit diperbesar menjadi 30.000 watt agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Sebuah bendungan kecil dibangun di lereng gunung untuk menampung air yang kemudian dialirkan melalui pipa berdiameter 70 sentimeter menuju rumah pembangkit atau power house.
“Di power house itu listrik diproduksi. Sementara airnya kita kembalikan lagi ke sungai. Hanya numpang lewat saja, tanpa merusak lingkungan,” kata Opan.
Baca Juga:Persebaya Rayakan Hari Jadi ke-99 dengan Semangat 'Persebaya untuk Semua'Genjot Serapan Telur dan Ayam untuk Program MBG, Harga Peternak Mulai Terdongkrak
Saat ini, listrik dari PLTMH dimanfaatkan oleh 90 rumah dengan rata-rata daya sekitar 450 watt per rumah. Menariknya, warga hanya dikenakan iuran Rp25 ribu per bulan untuk biaya operasional dan perawatan pembangkit.
“Kalau tetangga desa kami yang pasang dari PLN dengan daya segitu, rata-rata mereka bayar per bulan Rp100 ribu. Tapi di sini warga hanya dikenakan iuran Rp25.000 per bulan,” ungkapnya.
Menurutnya, iuran tersebut bukan untuk mencari keuntungan, melainkan digunakan untuk perawatan fasilitas dan membayar petugas yang menjaga turbin agar pasokan listrik tetap stabil.
Bagi warga Tangsijaya, listrik bukan sekadar sumber penerangan, melainkan hasil dari upaya bersama menjaga alam yang menjadi penopang kehidupan mereka. Karena itu, keberlangsungan hutan dan sumber air menjadi hal yang tak bisa dipisahkan dari keberadaan pembangkit mikrohidro di kampung tersebut.
